Sekulerisme Lahirkan Generasi Rusak

Sekulerisme Lahirkan Generasi Rusak 


                Oleh : Eva Rahmawati

( Member Akademi Menulis Kreatif )


Geram, marah, sedih, ngeri campur jadi satu melihat kondisi penerus bangsa ini. Pemuda sebagai agen perubahan, namun tingkahnya sungguh memalukan. Di mana adat ketimuran yang dibanggakan. Rasa malu pun sudah hilang. Hanya nafsu yang dipertuhankan. 


Baru-baru ini Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi dikejutkan dengan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, whatsapp (WA). Ironisnya, grup tersebut berisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno. Dari video tersebut, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan.


“Ini ketahuannya saat salah satu anggota grup kena razia oleh guru lalu diambil telepon selulernya. Awalnya anggota grup ini tidak mau membuka isi ponsel itu, tapi setelah dipaksa, akhirnya dibuka dan terbongkar itu grup,” ucap Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi, Mohammad Rozak kepada “PR”, Rabu, 3 Oktober 2018. (www.pikiranrakyat.com, 3/10/18)


Berikutnya di Kabupaten Garut dihebohkan dengan terungkapnya keberadaan grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut. Screenshot laman grup FB tersebut menyebar di berbagai grup aplikasi pesan WhatsApp. Menurut Soni MS, Ketua Garut Education Watch mengaku prihatin atas fenomena ini. Apalagi, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2600 orang lebih. (Kompas.com, 6/10/18)


Menurut Indonesia Police Watch (IPW) kasus Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia sangat mengkhawatirkan di sepanjang tahun 2017. Indonesia Police Watch (IPW) mencatat di sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan akibat dari sex bebas. "Jumlah ini naik 90 kasus dibanding tahun 2016," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam siaran persnya, Senin (1/1/2017). (sindonews.com, 1/1/18)


Realita di atas hanya sekelumit perilaku generasi yang rusak. Ibarat 'gunung es' yg diketahui hanya permukaan saja. Dibalik itu semua masih banyak cerita pilu semakin bobroknya generasi muda dari perkotaan hingga menjalar ke pelosok negeri. Lantas apa sebenarnya penyebab semakin parahnya pergaulan bebas dan perilaku menyimpang LGBT?


Penyebab utama degradasi moral yang menjangkiti generasi muda adalah dampak dari ideologi kapitalisme. Ideologi yang berdasarkan asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) sehingga menyuburkan budaya liberalisme, individualisme dan hedonisme. Atas nama Hak Azazi Manusia (HAM), bertindak semaunya tanpa mengindahkan norma yang berlaku. Serba bebas. "Yang penting tidak merugikan orang lain" adalah kata-kata manis yang menyesatkan. Alhasil, sistem sekuler hanya melahirkan generasi rusak bagi masa sekarang dan masa yang akan datang.


Ditambah lagi dengan kurang bijaknya penggunaan teknologi. Media digital sebagai produk teknologi barat merupakan 'madaniyah' seperti TV, HP, Laptop, dll. Sebenarnya sah-sah saja dimanfaatkan, hukumnya boleh. Akan tetapi pemanfaatan media digital ini tidak lepas dari sistem yang menggunakannya yaitu sistem kapitalis yang merupakan hadharoh barat.


Prinsip dasar kapitalis mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Maka tidak perlu heran ketika melihat tayangan TV yang dikejar hanya rating. Hasilnya tengoklah acara TV di Prime Time, menyuguhkan acara yang tidak mendidik. Sinetron-sinetron yang seolah-olah Islami nyatanya berselubung pacaran, free life style, perebutan harta, perselingkuhan, dendam, dll. Dan ini dikonsumsi setiap hari oleh anak-anak negeri. Mencari tontonan menjadi tuntunan, jauh panggang dari api. Hanya ilusi.


Disamping tontonan yang minim edukasi, trend remaja sekarang adalah tidak lepas dari gadget. Cukup dengan satu jari bisa berselancar ke seluruh dunia. Ibarat dua mata pisau. Media digital ada sisi positif dan negatif. Positifnya mempermudah komunikasi dan akses informasi cepat hanya dalam genggaman. Negatifnya penggunanya rentan terpapar konten pornografi dan pornoaksi, aplikasi minim nilai-nilai agama dan konten-konten negatif lainnya. Yang paling rentan terkena dampak negatif adalah kalangan remaja dan anak-anak. Media digital sebagai produk tekhnologi Barat merupakan madaniyah yang sarat dengan hadharoh barat terbukti sebagai mesin perusak dan penghancur generasi muslim.


Di sisi lain, minimnya peran keluarga mendidik, menanamkan aqidah sejak dini, selalu sibuk dengan karir masing-masing atau sibuk dengan dunianya sendiri, semakin banyak orang tua memfasilitasi anak dengan gadget super canggih tapi abai terhadap pengawasannya, menambah deretan penyebab remaja mencari kesenangan sendiri dengan orang lain. Parahnya seperti perilaku sex bebas, LGBT, narkoba, dll.


Keadaan ini diperparah, tidak ada sanksi tegas dari negara. Asal suka sama suka, tidak ada fihak yang melapor maka tidak dipidanakan. Bilapun terlanjur hamir di luar nikah solusinya dinikahkan. Yang lebih parah LGBT penyakit menular dan menjijikkan justru diberi ruang mengembangkan eksistensi mereka. Atas nama kebebasan dan HAM lagi-lagi negara tidak bisa berbuat apa-apa.


Kondisi memprihatinkan ini perlu adanya solusi menyeluruh, karena masalah kenakalan remaja ini tidak berdiri sendiri. Sistem sekuler sudah terbukti gagal mengikis habis problem ini. Faktanya semakin parah, negeri ini step by step menuju kehancuran. Solusi yang diberikan bersifat parsial. Masalah satu teratasi timbul masalah lain. Beberapa solusi diantaranya kampanye pacaran sehat yang dipropagandakan melalui buku pelajaran, Pekan Kondom Nasioanal, dan solusi-solusi lain yang sifatnya hanya kuratif dan rehabilitatif. Yang ada muncul masalah lain yaitu penyebaran virus HIV/Aids, aborsi, sex bebas, dll. Upaya preventif secara mendasar dan komprehensif tidak terfikirkan dalam sistem sekuler karena tidak ada nilai-nilai spritualitas dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.


Islam solusi menyeluruh masalah pergaulan bebas dan LGBT


Islam adalah way of life (jalan hidup). Bukan hanya mengatur ibadah saja tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Ruang lingkup Islam mencakup soal ibadah, aqidah, aspek pendidikan, ekonomi, sosial-kemasyarakatan, politik, pemerintahan, dll, hingga mengatur soal sanksi (uqubat).


Dengan berlandaskan aqidah Islam, negara berkewajiban membina warganya. Membentuk kepribadian remaja dengan pembinaan berbasis aqidah Islam akan melahirkan individu-individu takut kepada Allah SWT. Ditambah kontrol keluarga dan masyarakat. Serta penerapan Islam kaffah dalam negara, meliputi :


Pertama, dalam sistem sosial-kemasyarakatan Islam sangat terperinci mengatur bagaimana semestinya interaksi antar lawan jenis. Larangan khalwat (berdua-duaan yang bukan mahram), ikhtilat (campur baur wanita dan laki-laki), diatur bagaimana ketika dalam kehidupan umum (diluar rumah) maupun dalam kehidupan khusus (dalam rumah).


Kedua, Madaniyah yang tidak berkaitan hadharoh barat berupa TV, HP, gadget, laptop, dll, dimanfaatkan sebagai media dakwah, untuk penanaman aqidah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah serta pencerdasan umat tentang Islam sebagai ideologi. Negara tegas menutup semua konten porno dan negatif lainnya. Negara selektif terhadap invasi budaya dari luar. Yang tidak sesuai dengan syariat Islam wajib ditolak.


Ketiga, negara memberi sanksi tegas pada pelaku seks bebas dengan penerapan hukum jilid dan rajam sesuai status pernikahan pelakunya. Sanksi tanpa pandang bulu yang dilaksanakan di hadapan khalayak ini akan membawa efek jera yang sebenarnya bagi masyarakat (QS An Nur:2). Untuk pelaku liwat (LGBT) kedua pelakunya dibunuh. Sistem persanksian dalam Islam sebagai zawajir (preventif) dan jawabir (kuratif). Ini yang tidak dimiliki oleh sistem sekulerisme.


Demikianlah Islam menjadikan negara sebagai pilar utama mengatasi pergaulan bebas dan LGBT. Hanya negara yang menerapkan syariat Islam kaffah mampu mengatasi dan mencegah problem ini, sehingga akan melahirkan generasi muda berprestasi dan berkontribusi meninggikan agama Allah SWT.


Wallohua'lam bi ashshowab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak