Pemuda Pengukir Peradaban Dunia
Oleh :Ria Ummu Zahra*
Pemuda adalah tumpuan masa depan bangsa. Untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa maka dimulai dengan meningkatkan kualitas pemudanya. Pemuda juga sebagai agen pembawa, pewarna dan perubah salah satu pilar peradaban, yaitu kebudayaan.
Suatu hal yang luar biasa di bidang kebudayan terjadi di Banjarmasin. Banua kita kedatangan tamu dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC). Dilansir dari www.jejakrekam.com (24/8/2018), para pemuda dan intelektual se Eropa Asia Afrika ini tertarik untuk mengenal dan membuat kain tradisional khas Kalimantan Selatan yaitu kain sasirangan. Tujuan dari program ini adalah untuk lebih memperkenalkan kebudayaan khas indonesia kepada dunia. Para tamu dari mancanegara ini akan menjadi duta wisata di Negara mereka masing masing dan memperkenalkan kebudayaan banua kepada masyarakat luar.
Hal yang serupa juga terjadi. Sesuai dengan berita yang dimuat dalam www.kumparan.com (7/4/2018) Indonesia mengirim para pemudanya ke Jepang, Australia, Kanada dan Korea Selatan melalui Program Pertukaran pemuda Antar Negara (PPAN). Tujuan dari program ini tak beda jauh dengn program dari AIESEC diatas yaitu saling memahami kebudayaan dan memperkenalkannya ke negara masing-masing ketika mereka pulang ke kampung halaman.
Apabila kita mengkaji fakta diatas, apakah benar program program tersebut memberikan kontribusi yang benar benar bermanfaat buat kemajuan peradaban suatu bangsa?. Peradaban menurut www.sekolahpendidikan.com (diakses 31/8/2018 )adalah kumpulan suatu identitas terluas dari seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik seperti bangunan, jalan maupun non fisik seperti nilai nilai tatanan, seni budaya, ataupun IPTEK yang teridentifikasi melalui unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melaui identifiksi diri yang subjektif. Dari definisi diatas bisa diambil dua poin faktor dalam peradaban. Pertama adalah faktor fisik (madaniyah) yang terkait dengan hasil teknologi manusia, dan faktor non fisik yaitu sekumpulan pemikiran-pemkiran yang berlandaskan pada suatu konsep akidah tertentu pada diri manusia (hadlarah).
Dunia saaat ini lebih cenderung berkiblat kepada barat dalam segala hal. Baik secara fisik maupun non fisik. Seakan peradaban barat adalah peradaban paling maju diatas muka bumi. Sehingga semua standar modern tidak modern, baik buruk, salah benar harus berlandaskan pada bagaimana barat memandang. Pada faktanya memang di dunia ini terutama di negara-negra dunia ketiga begitu terkagum kagum mellihat kecanggihan teknologi barat. Hal ini mendorong mereka mengadopsi teknologi yang serupa dengan barat. Selama teknologi-teknologi itu tepat guna dan bermanfaat mungkin masih bisa kita adopsi demi kemaslahatan masyarakat luas. Tapi apabila teknologi-teknologi tersebut hanya akan membahayakan suatu bangsa ke depannya karena bertentangan dengan nilai- nilai positif di tengah masyarakat, maka teknologi tersebut lebih baik ditinggalkan.
Mereka juga tanpa filter mengambil segala hasil pemikiran barat untuk diterapkan dalam kehidupan mereka, contohnya sekulerisme dan demokrasi. Tak terkeculi para pemuda juga ikut andil dalam hal ini. Mereka akhirnya menjalani kehidupan sekuler yang bebas nilai spiritual. Contohnya seperti kasus-kasus secara umum yang menimpa remaja-remaja Indonesia, seperti kasus selebgram Awkarin yang menjadi trend setter remaja saat ini, bikini party, kasus pergaulan bebas, narkoba dan sebagainya. Nilai nilai sekulerisme inilah yang coba dicontohkan kepada pemuda-pemuda kita. Seakan hal seperti ini sangat maju dan modern. Padahal pemikiran sekulerisme yang memisahkan antara kehidupan dengan agama ini hanya seperti madu yang bercampur racun.
Pada kenyataannya peradaan barat tidaklah seindah yang kita lihat. Nilai nilai yang kita ambil juga tak semuanya bisa kita ambil. Mengingat diri kita sebagai sebuah negeri dengan jumlah muslim mayoritas. Tak bias sealmanya hal yang diluar nilai nilai islam bisa kita ambil. Karena setiap nilai kehidupan seorang muslim harus distandarkan pada syariat islam.
Berkaitan dengan teknologi hasil peradaan manusia memang bisa kita ambil kecuali kalo teknologi itu mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengn nilai-nilai islam. Pemikiran-pemikiran hasil peradaban sekuler barat yang berentangan dengan islam maka hal ini tak boleh kita ambil. Sebagai seorang muslim sehrusnya menjadikan pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan kacamata syara’. Manusia diciptakan Allah tanpa bebas nilai. Hidup adalah perwujudan ibadah kepadaNya sebagai Pencipta kita. Hal ini mengandung konsekuensi kita harus terikat pada hukum syara’.
Pemuda Indonesia sebagai agent of change juga seharusnya paham akan konsep ini. Bahwa tak semua nilai-nilai dari luar itu sesuai dengan timbangan syara’. Pemuda pembawa tongkt estafet kepemimpinan negara di masa depan seharusnya bisa memfilter diri. Pemuda yang paham konsep akidah yang benar. Pemuda yang menjadikan hukum syara sebagai landasan hidupnya. Pemuda yang mau bangkit dan mendakwhkan kebenaran islam keseluruh dunialah yang dibutuhkan negeri ini untuk bangkit sehingga tak perlu kita mengambil nilai-nilai dari luar islam. Kita gali nilai-nilai kebangkitan dari Al Qur’an dan As Sunnah. Syariat Allah takkan bisa tergambar dengan jelas apabila tak ada yang mengemban ide ini. Dibutuhkan juga institusi yang akan menaungi seluruh hukum-hukum ini agar efek Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bisa terasa.
*Praktisi Pendidikan Tanah Bumbu Kalimantan Selatan