Oleh Azizah Nur Hidayah
(Pelajar, Member Akademi Menulis Kreatif, Anggota Komunitas Smart With Islam Sidoarjo)
Sobat, tahukah kamu? Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasulullah SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya (Allah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan juga hubungan manusia dengan sesama manusia.
Hubungan manusia dengan Allah mencakup perkara-perkara tentang akidah dan ibadah. Seperti yang kita ketahui bersama selama ini. Mulai dari sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Ada pula hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup perkara tentang akhlak, makanan dan minuman serta pakaian. Dan yang terakhir adalah hubungan manusia dengan sesama manusia yang mencakup perkara muamalah (sosial) dan uqubat (sanksi).
Di antara ketiga hubungan tersebut, hubungan manusia dengan sesama manusialah yang paling banyak menimbulkan masalah. Oleh karena itu, kita membutuhkan aturan yang benar-benar baik dan sempurna untuk kita.
Allah menciptakan manusia beserta aturan-aturannya. Tidak mungkin Allah menciptakan manusia tanpa aturan. Karena jika tidak ada aturan, maka akan terjadi kerusuhan antara kita. Dan aturan-aturan tersebut ada dalam Al-qur’an dan As-Sunnah. Al-qur’an dan As-Sunnah adalah pedoman hidup kita. Jadi, jika kita tidak mengikuti aturan sesuai pedoman hidup kita, bisa dipastikan hidup kita akan kacau balau. Maka dari itu, kita harus melakukan segala berbuatan berdasarkan aturan yang telah dibuat oleh pencipta kita, yaitu Allah Ta'ala, Al-Khaliq Al-Mudabbir.
Islam adalah agama yang sempurna. Islam memiliki seperangkat aturan lengkap dari Allah Ta'ala untuk mengatur hidup kita. Islam bukan agama yang hanya menghubungkan kita dengan Allah Ta'ala. Tapi Islam juga yang mengatur hubungan-hubungan lainnya.
Islam jugalah yang memiliki aturan-aturan bagaimana sikap kita pada diri kita sendiri dan juga sikap kita pada sesama manusia. Namun, masih banyak dari kita yang tidak mentaaati aturan yang telah dibuat oleh Allah Ta'ala.
Sobat, kita sering kali hanya mengambil aturan yang menurut kita itu enak, baik, menguntungkan bagi kita. Sebaliknya, jika menurut kita aturan Allah Ta'ala itu mempersulit kita, tidak menguntungkan kita maka kita akan meninggalkannya. Contohnya tentang pacaran. Okelah kita menutup aurat, berjilbab, berkerudung dan sebagainya. Kita menerima aturan Allah untuk menutup aurat. Akan tetapi di sisi lain kita masih pacaran.
Kita tidak bisa menerima perintah Allah untuk menjaga diri dari lawan jenis, menundukkan pandangan, tidak bercampur baur dan sebagainya. Mengapa kita bisa menerima perintah Allah Ta'ala untuk berjilbab sedangkan untuk pacaran tetap kita lakukan? Itu karena menurut kita berjilbab itu enak, tapi kalau nggak pacaran itu nggak enak. Padahal bukan begitu seharusnya.
Ingatlah sobat, Islam bukanlah agama prasmanan yang bisa kita pilih-pilih mana yang enak dan nggak enak. Tetapi, apa yang telah Allah perintahkan pada kita hendaknya kita langsung melakukannya. Dan jika memerintahkan kita untuk meninggalkannya, maka tinggalkan. Percayalah, Allah membuat aturan-aturan tersebut untuk kebaikan manusia, agar manusia tidak mengalami kerusakan.
Maka dari itu, mari kita tinggalkan apa yang dilarang Allah Ta'ala dan bergegas melaksanakan apa yang diperintahkannya. Masuklah Islam secara kaffah. Sebab Islam bukan agama prasmanan, sobat!
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al Baqarah[02] : 208)