Oleh Radhia (Pemerhati Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif Regional Banjarbaru, Kalimantan Selatan)
Miris! Belum lama ini, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsab Handayani, mengungkapkan temuan mengejutkan. Ia menemukan satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil. Dwi juga membeberkan fenomena penjualan kondom dan alat tes kehamilan dilingkungan sekitar kampus dan kos-kosan. Katanya dalam 1 bulan ada 100 pieces terjual (kondom dan tespack).
Di Cikarang, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, _Whatsapp_ (WA) yang bernama _"All Starts"_. Ironisnya grup tersebut beirisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. (PR 3/10)
Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno. Dari video tersebut, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan. (PR 3/10/2018)
Tidak hanya itu, ternyata hal yang tidak kalah memprihatinkan adalah terungkapnya keberadaan grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut. (Kompas.com 6/10)
Banyak faktor yang menyebabkan remaja muslim (khususnya) terjerumus dalam budaya seks bebas. Pertama, peran keluarga sebagai tempat pendidikan dan pembinaan bagi setiap anggotanya, terutama anak-anak, tidak berjalan. Banyak orangtua malah menanamkan nilai-nilai sekular-liberalis dalam keluarga. Sehingga wajar bila anggota keluarganya, khususnya anak-anak mereka rentan terpapar pergaulan bebas, termasuk LGBT.
Kedua, masyarakat semakin kurang peduli. Ada sikap acuh tak acuh, apalagi sekarang kondisi lingkungan sudah sangat individualis. Tidak ada lagi kepekaan dan kepedulian satu sama lain. Akibatnya, perilaku seks bebas dilingkungan masyarakat seperti kos-kosan makin menjamur.
Ketiga, negara abai terhadap pembinaan moralitas remaja. Karena dipandang sebagai urusan personal, bukan menjadi tanggung jawab negara. Dan yang menjadi pangkal dari persoalan ini adalah negara memberlakukan sistem kehidupan sekular-liberal. Dalam sistem kehidupan seperti ini, setiap individu diperbolehkan untuk melakukan apa saja, termasuk dalam perilaku seksual. Tidak heran bila kemudian perilaku seks bebas, LGBT dan berbagai perilaku menyimpang lainnya semakin marak.
Kalau sudah seperti ini, maka seolah kita mengijinkan azab Allah datang menimpa negeri. Na'udzubillah. Tidak cukupkah dengan musibah yang datang silih berganti. Tidakkah seharusnya itu dijadikan sebagai pelajaran dan muhasabah diri?
Jelas, solusi yang ditawarkan sistem sekular ini tidak mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas. Bahkan menyimpan bom waktu yang siap meledak untuk menghancurkan peradaban manusia.
Oleh karena itu, tidak ada lagi jalan keluar yang dapat menyelamatkan generasi muda dan masyarakat melainkan dengan syariah Islam. Hanya Islam yang mempunyai solusi tuntas untuk setiap permasalahan.
Mulai dari peran keluarga yang juga harus menjaga, menjalankan fungsinya sebagai pendidik dan pembina anak. Sebagaimana Firman Allah dalam QS.At-Tahrim : 6 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kaliandari siksa api neraka...".
Selain itu juga masyarakat tak boleh membiarkan lingkungan tercemari seks bebas. Sikap cuek terhadap kerusakan akhlak hanya akan menambah persoalan sosial dan mengundang murka Allah Swt. Dan yang tidak kalah penting adalah peran negara yang harus menjaga akhlak masyarakat, termasuk mencegah berbagai perbuatan yang mendekati zina. Keharaman zina dan kerasnya sanksi yang dijatuhkan adalah bentuk perlindungan terhadap umat manusia.
Jelas bahwa Islam memiliki solusi tuntas menyelamatkan generasi dari pergaulan bebas. Sudah saatnya kita kembali pada aturan-aturan Allah Swt yang telah menjamin kebaikan dan keberkahan hidup.
Wallahu'alam bishowab