Oleh: Yanyan Supiyanti A.Md
(Member Akademi Menulis Kreatif)
_Anugerah_ _dan_ _bencana_ _adalah_ _kehendak-Nya_
_Kita_ _mesti_ _tabah_ _menjalani_
_Hanya_ _cambuk_ _kecil_ _agar_ _kita_ _sadar_
_Adalah Dia diatas segalanya_
Penggalan lagu *Untuk Kita Renungkan* yang pernah dinyanyikan oleh Ebiet G Ade diatas sangat sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.
Bencana demi bencana melanda Indonesia. Gempa demi gempa bersusulan, ada apa dengan negeri ini?
Gempa Lombok pertama kali terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter. Disusul gempa berikutnya yang lebih besar pada 5 Agustus 2018 dengan kekuatan 7,5 Skala Richter. Setelah itu diikuti dengan gempa-gempa susulan.
Berdasarkan catatan BNPN yang dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, per Jumat 24 Agustus 2018, wilayah Lombok sudah diguncang oleh 1.089 kali gempa susulan sejak gempa besar kali pertama 5 Agustus 2018. Dari 1.089 kali gempa susulan tersebut, gempa dirasakan ada 50 kali. Akibat gempa, 555 orang meninggal dunia. Terdapat 390.529 orang yang masih mengungsi. Mereka masih memerlukan bantuan logistik (Viva.co.id, 24/8/2018).
Dalam minggu ini, gempa susulan juga terjadi pada Minggu (26/8/2018) dini hari di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB (CNNIndonesia.com, Minggu, 26/8/2018). Kemudian pada selasa (28/8/2018) juga terjadi dua kali gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hanya berselang lima menit. Kekuatannya 6,2 Skala Richter dan 5,8 Skala Richter (Detik.com, 28/8/2018).
Bencana apapun , termasuk gempa bumi, merupakan bagian dari _qadha'_ Allah SWT yang harus kita imani. Oleh karena itu, setiap Muslim dalam menghadapinya harus bersikap positif, yaitu:
1. Dengan selalu bersikap sabar. Kesabaran ini harus terus dipupuk dan dipelihara. Sebab Allah SWT memang akan menguji sejauh mana kesabaran para hamba-Nya. Orang-orang yang sabar inilah yang kemudian Allah SWT gembirakan.
Kesabaran yang harus dibangun tentu bukan kesabaran yang bersifat pasif, melainkan kesabaran yang positif dan aktif. Dengan kata lain kesabaran itu disertai dengan perenungan untuk menarik pelajaran guna membangun sikap, tindakan dan aksi ke depan demi membangun kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat. Di dalamnya termasuk untuk bisa melakukan mitigasi bencana secara lebih baik. Dengan itu dampak dan kerugian yang diderita dalam berbagai aspeknya bisa diminimalisasi.
2. Dengan senantiasa lapang dada (ridha) selain bertawakal dan mengembalikan semuanya kepada Allah Yang Mahakuasa.
Dengan sikap sabar dan ridha, bencana yang datang akan mendatangkan banyak hikmah dan kebaikan, diantaranya:
1. Bencana bisa menghapus dosa. Inilah yang disabdakan oleh Rasul saw:
"Tidaklah seorang Mukmin tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengan itu Allah meninggikan dia satu derajat atau Allah menghapuskan dari dirinya satu dosa (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).
2. Melalui bencana, Allah SWT ingin menunjukkan kekuasaan-Nya kepada manusia. Allah SWT juga mengingatkan bahwa manusia itu lemah, akalnya terbatas dan membutuhkan bantuan-Nya. Dalam hal gempa bumi, faktanya akal dan pengetahuan manusia belum bisa memprediksi secara akurat akan terjadinya gempa.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr. Daryono M.Si menyebut tidak ada satupun lembaga resmi dan pakar yang kredibel dan diakui mampu memprediksi gempa. Bahkan ketika didukung dengan teknologi yang lebih canggih sekalipun.
"Pakar gempa dunia pun sepakat bahwa gempa memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan di mana dan berapa magnitudonya," jelas Daryono (CNNIndonesia.com, 24/8/2018).
Maka dari itu tidak sepantasnya manusia sombong dihadapan kekuasaan Allah SWT. Tak sepantasnya manusia menyangka telah sanggup menguasai dan mengatur dunia seraya meninggalkan petunjuk Allah yang Mahabijaksana, dengan meninggalkan syariah-Nya.
Allah SWT mendatangkan musibah untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran spiritualitas manusia akan azab Allah SWT.
Kesadaran spiritual sebagai efek positif dalam menyikapi musibah haruslah membangkitkan energi penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya. Wujudnya adalah tunduk dan patuh menjalankan dan menerapkan hukum-hukum dan syariah-Nya secara total di muka bumi.
Karena itu, musibah yang terjadi haruslah menumbuhkan kesadaran dan keberanian untuk meluruskan segala hal yang salah, keberanian untuk melakukan perbaikan atas berbagai kerusakan yang ada, serta keberanian mengakhiri dan meninggalkan sistem rusak buatan manusia, yakni ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme. Lalu mengganti sistem rusak itu dengan ideologi dan sistem yang benar, yang telah Allah SWT telah turunkan. Itulah ideologi dan sistem Islam. Dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyyah 'ala minhaj an-Nubuwwah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.[]