Memburu Medali atau Ridho Ilahi

Oleh: Sofia Ariyani, SS

(Member Akademi Menulis Kreatif)

Siapa tak suka olahraga? Olahraga memang banyak digemari oleh semua kalangan masyarakat, terlebih jika dipertandingkan. Ini terlihat dari animo masyarakat dalam perhelatan kejuaraan olahraga se-Asia, Asian Games 2018 yang tengah berlangsung di Jakarta-Palembang. Gegap gempita, sorak sorai mewarnai arena-arena pertandingan.

Olahraga adalah aktivitas mengolah tubuh, ada yang berbentuk fisik (lari, berenang, dan sebagainya) ada juga yang berbentuk non-fisik (catur). Bergantinya zaman menjadikan olahraga bukan lagi berfungsi sebagai menjaga kebugaran tubuh tapi untuk mendapatkan materi, popularitas dan ketenaran, duniawi semata. Terbukti ketika para atlet yang dulunya pernah berjaya mengharumkan nama bangsa mereka menjadi orang yang dikagumi menjadi selebritas, akan tetapi ketika sudah tidak lagi mengikuti kejuaraan-kejuaraan mereka menjadi orang biasa dan tidak lagi menjadikan olahraga sebagai aktivitasnya sehari-hari.

Itu semua diakibatkan oleh cara pandang umat Islam saat ini yang tidak menerapkan syariat Allah SWT. Karena umat Islam saat ini menjadikan sistem Kapitalisme-Sekularisme sebagai pandangan hidup yang berasaskan manfaat dan tidak mau diatur oleh agama. Maka wajar jika olahraga pun dijadikan industri untuk mengumpulkan materi, untuk mendapatkan popularitas dan ketenaran. Dan wajar pula dengan beberapa cabang olahraga yang menampakkan aurat baik atlet prianya maupun atlet wanitanya, seperti cabang olahraga renang, voli pantai, tenis, dan sebagainya. Bahkan di luar negeri sana banyak atlet yang terkena skandal moralitas, pengguna narkoba, meminum miras, dan sebagainya.

Di dalam Islam pun olahraga dikenal, yaitu olahraga berenang, memanah dan berkuda. Ini yang dicontohkan oleh Rasululloh Saw.

Namun di dalam Islam olahraga merupakan bagian dari syariat Allah SWT yaitu disamping untuk menjaga kebugaran tubuh juga untuk persiapan berjihad di jalan Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya,

“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang mampu kalian upayakan.” (QS. Al-Anfal: 60).

Nabi Saw juga bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, ketimbang orang mukmin yang lemah.” Dalam konteks itu pula, Nabi saw mengizinkan orang-orang Abesenia untuk memainkan tombak di Masjid Nabawi yang mulia. Nabi juga mengizinkan Aisyah, istri Baginda Saw, untuk melihat mereka. (HR Muttafaq ‘Alaih)

Itu semua karena di dalam Islam olahraga bukan sebagai penunjang kebugaran semata akan tetapi lebih dari itu, yaitu untuk berjihad di jalan Allah, menyebarkan Islam ke seluruh dunia, menyebarkan rahmat-Nya.

Ini sangat berbeda dengan sistem Kapitalisme dan yang lainnya. 

Ketika Islam diterapkan di muka bumi dan dijadikan sebagai pandangan hidup manusia maka segala aktivitasnya berdasar "lillah", dan hanya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah SWT.

Sebagaimana sabda Nabi Saw "Sesungguhnya melancong dan rekreasi umatku adalah jihad di jalan Allah". (HR. Abu Dawud, Hakim, Baihaqi dan At-Thabrani)

Ini menjadi bukti bahwa aktivitas umat Islam bukan untuk bersenang-senang semata. Namun bukan berarti tidak ada kesenangan atau selingan sama sekali, selingan hanya untuk selingan saja bukan yang mendominasi setiap aktivitasnya.

Maka jelas setiap sistem akan mempengaruhi tujuan hidup manusianya. Sistem kapitalisme yang berasas manfaat hanya membuat manusia mengejar kesenangan duniawi semata yaitu mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Berbeda dengan Islam, sistem hidup yang berasal dari Sang Maha Pencipta. Islam menjadikan tujuan hidup manusia hanya untuk akhirat, untuk mendapatkan ridho Alloh SWT.

Jika para atlet saat ini memperebutkan medali dan sejumlah uang. Maka kaum muslimin yang menjadikan olahraganya hanya untuk meninggikan Islam ia akan mendapatkan lebih dari sekedar medali, ketenaran dan sejumlah uang yg sesaat bisa hilang, musnah dan habis. Ia akan mendapat kenikmatan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Wallahu'alam bishawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak