Oleh : Lilik Yani
Hidup adalah proses pertarungan antara sifat-sifat setaniyah (sifat jelek) dan sifat-sifat malakiyah (sifat baik) yang ada dalam diri manusia.
Malaikat digambarkan sebagai sosok yang rasional dan penuh ketaatan kepada Allah swt. Sedangkan setan digambarkan sebagai sosok yang emosional, menang sendiri dan penuh kesombongan.
Ketika malaikat mendengar Allah akan menciptakan manusia (Nabi Adam), maka secara rasional mereka bertanya kepada Allah. Mengapa Allah akan menciptakan manusia yang punya kecenderungan untuk melakukan kerusakan di muka bumi, sebagai khalifah atau pemimpin? Padahal Allah sudah memiliki hamba-hamba yang taat seperti malaikat yang selalu bertasbih mengagungkan Allah.
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Sesungguhnga Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Mereka berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?
Tuhan berfirman : " Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(TQS Al Baqarah : 30)
Ketika Allah menyuruh malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Adam (makhluk yang baru diciptakan Allah). Maka malaikat langsung bersujud. Sedangkan iblis tidak mau karena lebih mulia.
"Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud kepada Adam, ketika Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab : "Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (TQS Al A'raf : 12)
Allah memasukkan sifat-sifat malakiyah dan setaniyah pada keturunan Nabi Adam. Maka dari itu, di satu sisi manusia memiliki sifat-sifat ketaatan, rasional, akal sehat. Di sisi lain juga memiliki sifat-sifat keingkaran, emosional, kesombongan.
Sifat-sifat yang pertama disebut sebagai taqwa yaitu suatu ketaatan yang terkait dengan akal sehat. Sedangkan sifat-sifat kedua disebut fujur yaitu kefasikan secara emosional.
Demi jiwa serta proses penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kecenderungan kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (TQS Asy Syams : 7-10).
Pada saat haji, ketika para jamaah haji melempar jumrah. Itu adalah simbolisasi untuk menundukkan keingkaran pada sifat-sifat setaniyah. Karena setan adalah musuh yang nyata, yang selalu menggoda manusia dari segala penjuru. Maka kita harus berupaya mengusirnya dengan sungguh-sungguh.
Menurut sejarahnya, lemparan batu sampai 7 kali itu dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada setan yang membujuknya untuk membatalkan niat menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.
Secara emosional, ada rasa berat untuk menunaikan perintah Allah tersebut. Tetapi jiwa suci Ibrahim begitu kuat menuntunnya ke arah perintah Allah. Nabi Ibrahim lebih taat kepada Allah swt.
Sebuah pertarungan antara sifat malakiyah (taat perintah Allah) dan setaniyah (menghalangi untuk taat Allah) itulah disimbolisasikan dengan lembaran batu ke arah tugu setan.
Oleh karena itu para jama'ah haji ketika melempar jumrah, juga diiringi dengan mengusir sifat-sifat setaniyah yang ada pada dirinya. Jika tidak bisa menundukkan sifat-sifat tersebut maka tidak termasuk haji yang mabrur.
Karena proses haji adalah proses pensucian jiwa. Maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya.
Saudaraku para jama'ah haji, semoga dimudahkan semua urusannya. Dan bisa menjalankan semua rangkaian ibadah haji dengan baik. Termasuk dalam melempar jumrah ini.
Semangat kalian dalam melempar tugu setan, dengan batu-batu yang sudah kalian persiapkan. Mohon hati-hati jangan sampai mengenai saudara sesama jamaah haji. Rasa marah kepada musuh (setan), jangan sampai dilampiaskan kepada saudara sendiri. Tetap jaga emosi, dan jaga kesadaran bahwa musuh kalian adalah iblis atau setan yang terkutuk, bukan sesama saudara.
Saudaraku, hendaknya aktivitas melempar jumrah itu bukan hanya ketika kalian berhaji. Nanti ketika sudah kembali ke tanah air, kalian tetap dihadapkan dengan setan-setan yang tak pantang menyerah mencari kawan. Maka hikmah melempar jumrah itu terus dilakukan. Usir musuh-musuhmu yang selalu menggoda dari segala arah. Mohonlah perlindungan kepada Allah, dari godaan setan yang terkutuk.
Saudaraku, dengan kita memohon kepada Allah, semoga kita dijaga dari gangguan setan. Sehingga bisa menjalankan ibadah dan semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah.
Saudaraku, jika itu yang kalian sepulang haji, maka in syaa Allah kalian tergolong haji yang mabrur. Haji yang terus membawa perbaikan baik buat diri, keluarga, juga orang lain secara umum.
Surabaya, 23 Agustus 2018
#LemparJumrahmu
#SetiapWaktuUsirMusuhmu