Oleh: Arsy Novianty
Sungguh miris , masih hangat dalam nuansa perbincangan mengenai asian games 2018. Asian Games 2018 telah resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo, dalam upacara pembukaan (opening ceremony) yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 Agustus 2018.
Berhiaskan panggung megah dan koreogeafi serta musik yang apik, opening ceremony itu disebut-sebut menelan dana sebesar 47 juta dollar atau sekitar Rp 685,2 miliar. TEMPO.CO, Jakarta -
Benar-benar sangat miris bukan harga yang begitu fantastis mampu menggiurkan manisnya dunia yang sesaat, yang dalam kurun waktu bersamaan sedang terjadi gempa di lombok yang kian berkelanjutan. Ini masih sibuk membuat pencitraan, dengan panggung megahnya mampu menutup mata dan hati. Padahal kita tau sendiri didalam negeri ini sedang terjadi musibah yang cukup besar.
Ya pencintaraan yang sesaat memanglah membuat para asing dan Aseng begitu bangga melihatnya, tapi bagi kita sendiri bagaimana? Benar-benar tak bangga yang ada miris dan sedih karena kitapun tau sendiri bahwasannya saudara kita dilombok sedang terkena musibah, tapi disana begitu asyiknya begitu bangganya mengikuti asian games.
Apakah seorang pemimpin seperti itukah yang mengurusi rakyat? Dimana rakyatnya sedang merasakan kesusahan ini malah membuat pencitraan yang begitu hebatnya dengan dana yang tak sedikit.
Mari kita lihat bagaimana kisah seorang Khalifah Umar bin Khattab kepada rakyatnya yang kelaparan. "Alkisah suatu hari Ketika Beliau sedang patroli ada salah satu rumah yang anak-anaknya sedang menangis karena rasa lapar yang kian terasa , anaknya bertanya pada Sang Ibu "kapan matang Bu?" ibunya pun menjawab "sebentar lagi" dan terus begitu akhirnya Beliau pun masuk ke gubuk tersebut dan bertanya "apa yang sedang kau masak sampai anakmu kelaparan?" ibu itu menjawab batu. Dan betapa kagetnya Beliau saat mengetahui bahwa ternyata yang dimasaknya itu ialah batu. Lalu seorang ibu tersebut mengatakan kalau dia akan megutuk kepada Amir mukminin atas apa yang menimpa keluarganya. Padahal perlu kita ketahui bahwa ternyata yang sedang berbincang dengannya adalah Amir mukminin akhirnya beliau memberikan sekarung beras dan malah beliau sendiri yang mengangkatnya dan ibu itupun berterima kasih, lalu keesokan harinya ketika dia mau protes ternyata yang dia temui adalah orang semalam yang memberikannya sekarung beras.
Kita bisa lihat bagaimana seorang pemimpin melaksanakan amanahnya dengan sangat baik, dan yang paling utama ialah rasa takutnya pada Allah sehingga mampu menjalankan berbagai tugas kenegaraan dengan begitu baiknya, lebih mementingkan ummat daripada diri pribadi.
masyaAllah ALLAHU AKBAR memang lah benar solusi tuntas dari berbagai macam problematika kehidupan ialah hanya dengan islam, kembali pada sistem islam yakni KHILAFAH, dan seorang pemimpin yakni KHOLIFAH insyaAllah Islam Rahmatallil'alamin kian terasa manis.