Oleh : Umi Zadit Zareen
(Pemerhati Remaja)
Dalam sebuah informasi oleh CNN Indonesia pada 30 September lalu, Para peneliti termasuk "Bapak AI" dunia tentang kecerdasan buatan (AI), untuk kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" AI.
Sebuah riset berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" Dalam penelitiannya melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern. Termasuk pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki.
Dalam mengungkapkan keprihatinan dilansir The Guardian, tentang "ledakan kecerdasan" yang mereka gambarkan sebagai percepatan drastis kemajuan AI akibat AI itu sendiri dalam proses recursive self-improvement (RSI) atau penelitian dan pengembangan (R&D) AI secara otomatis.
Menurut riset tersebut, seorang pengembang AI dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri.
"Ledakan kecerdasan buatan bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia, memadatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi beberapa bulan atau kurang, mengancam kendali manusia atas sistem AI, dan sangat mengikis pengawasan kekuasaan di dalam dan antar negara, perusahaan, dan cabang pemerintahan," tulis para peneliti di studi tersebut.
platform AI saat ini juga bertindak sebagai subjek simulasi yang interaktif dengan segala kemudahan yang diberikan. AI bisa berdialog, menjawab pertanyaan, hingga menyelesaikan segala pertanyaan dan kebutuhan yang diinginkan. Sifat praktis inilah yang membuat masyarakat awam merasa cukup bertanya pada sebuah mesin.
Perkembangan teknologi AI dapat memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia.
Karena mesin ini bekerja dengan pattern recognition (pengenalan pola) dan probabilistic language model (model bahasa probabilitas). Artinya, AI mengolah data mendeteksi pola susunan kata yang paling sering muncul di internet. Tandanya semua tergantung dari apa yang terus dicari dan muncul, baik dan buruknya.
AI sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk menyajikan informasi secara lengkap. Namun, kualitas, kedalaman, dan akurasi jawaban AI tersebut sangat bergantung pada tingkat kedetailan perintah (prompt) atau pertanyaan yang diajukan oleh pengguna.
Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia.
Seluruh problem ini berakar dari ketidakberdayaan manusia dalam mengontrol teknologi yang mereka konsumsi. Oleh karenanya, Islam membedakan dengan jelas antara hadharah (ikatan pemikiran yang dipengaruhi pandangan hidup) dan madaniyah (bentuk fisik dari kemajuan sains/alat). Teknologi AI pada dasarnya adalah madaniyah umum yang bersifat mubah (boleh) untuk dimanfaatkan.
Mengambil peran AI dengan reposisi yang sahih. Pertama, AI sebagai alat bantu (khidmat). AI akan dioptimalkan secara masif sebagai alat bantu administrasi negara, riset sains, penerjemahan kitab-kitab secara cepat, digitalisasi manuskrip kuno, hingga alat bantu bagi para ulama untuk melacak referensi teks hadis atau ayat secara instan.
Kedua, AI bukan subjek hukum. AI mutlak diposisikan sebagai mesin pembawa data (mukhbir), bukan sebagai sumber hukum (mashdar al-ahkam) atau penentu fatwa.
Ketiga, kedaulatan algoritma islami. Membangun infrastruktur superkomputer dan model bahasa besar (Large Language Model) mandiri. Database dan data latih (training data) AI tersebut akan dikurasi secara ketat oleh lembaga keulamaan negara berdasarkan kitab-kitab muktabar, murni bebas dari infiltrasi content policy liberal Barat.
Dengan konstruksi sistemis ini, teknologi AI menjadi alat perjuangan yang tunduk di bawah syariat Islam untuk menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, solusi hakiki adalah membangun kembali sistem kehidupan Islam.
Wallahualam bissawab.
Tags
Opini