Oleh: Nabila Zulva, S.Si, Aktivis Muslimah Kota Malang
Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah berkembang sangat pesat. Beberapa perusahaan mengaplikasikan AI di berbagai bidang, salah satunya kesehatan. Insilico Medicine salah satu perusahaan bioteknologi berskala global, telah mengembangkan AI yang mampu menemukan dan menyusun obat. Salah satu obat yang dikembangkan bernama Rentosertib, (Obat untuk mengobati jaringan paru-paru yang terluka) telah memasuki uji klinis. Kompas.id (05/10/2026)
Singapura telah memanfaatkan AI dibidang keamanan publik. Pemerintah melakukan rancangan akan menggunakan robot humanoid berbasis AI di tahun 2028. Robot ini nantinya digunakan untuk bekerjasama dengan petugas keamanan untuk menangani beberapa tugas yang berisiko bagi manusia. Seperti melacak lokasi ledakan, merespon terhadap bahan-bahan berbahaya dan melakukan penggeledahan hasil penyelundupan di dalam tahanan. cnnindonesia.com (05/10/2026)
Manfaat besar kecerdasan buatan (AI) kini dihadapkan pada kekhawatiran global mengenai risiko keamanannya, terutama terkait potensi AI untuk memperbaiki dan meningkatkan dirinya sendiri secara mandiri (recursive self-improvement) yang dikhawatirkan dapat membuat teknologi ini lepas dari kendali manusia dan memicu kerusakan besar. Kondisi ini memicu dilema regulasi di tingkat global; di satu sisi Uni Eropa dan para peneliti mendesak adanya aturan ketat serta pelaporan transparan demi keselamatan publik, namun di sisi lain, tokoh seperti Donald Trump menentangnya karena regulasi yang berlebihan dinilai dapat menghambat inovasi domestik dan menghilangkan keunggulan kompetitif serta geopolitik Amerika Serikat dari Tiongkok. metrotvnews.com (28/09/2026)
Dalam paradigma kapitalisme, semua kemajuan teknologi dikendalikan oleh prinsip kapitalistik yang kita kenal dengan sebutan knowledge based economy (KBE) artinya perkembangan teknologi termasuk AI tersebut diadakan untuk melayani kepentingan industri yang notabenenya dimiliki oleh kaum kapital, bukan untuk kepentingan atau kemaslahatan umat manusia.
Perkembangan masif kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat Islam berpotensi membawa risiko kehancuran bagi kehidupan manusia. Akal manusia merupakan bentuk kemuliaan sekaligus amanah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. Teknologi pada hakikatnya ialah alat bantu yang lahir dari pemahaman manusia terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah memberikan potensi sumber daya alam (seperti besi, silikon, minyak bumi), dan memberikan akal kepada manusia untuk mengolahnya sebagai Khalifah fiil Ardhi. Di dalam Islam, pemanfaatan dan pengembangan teknologi dikendalikan dan dibatasi oleh aturan Allah SWT. Islam juga menetapkan hukum yang tegas terkait segala bentuk hasil pemikiran manusia melalui hadharah pemikiran yang harus didasarkan oleh ideologi islam dan madaniyah produk yang bersifat umum. Islam memandang teknologi adalah produk fisik (madaniyah) dimana berdasarkan kaidah fikih,
"Hukum asal suatu benda adalah mubah sampai ada dalil yang mengharamkannya, tapi hukum asal perbuatan itu terikat dengan hukum syara'."
Artinya bahwa penggunaan teknologi sah-sah saja dipakai dan dikembangkan selama sesuai dengan hukum syara'. Dengan adanya AI sebagai teknologi buatan manusia, sangat dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran tertentu yang kemudian diproses menjadi satu keputusan. Apabila AI berada dalam kendali manusia yang memiliki akidah yang kokoh serta ketundukan yang kuat terhadap syariat, maka akan memberikan manfaat dan kebaikan bagi manusia. Namun apabila AI yang berada di tangan manusia kafir, akan mendatangkan bahaya dan kerusakan bagi manusia dan alam semesta. Oleh sebab itu seluruh pengaturan yang ada di kehidupan manusia haruslah diatur dengan syariat islam agar mencapai keselamatan.
Tags
Opini