Aksi Liar Siswa Berujung Maut, Buah Gagalnya Sistem Sekuler, Saatnya Kembali pada Solusi Islam




Oleh : Ummu Umar

Hampir setiap pekan kita selalu disuguhkan dengan berita mengenai polah tingkah pelajar yang mengkhawatirkan. Entah itu kasus perundungan (*bullying*), tawuran, hingga aksi kejar-kejaran maut di jalanan.
Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan oleh insiden berdarah di Jalan Alam Sutera, Serpong Utara, Tangerang Selatan. Dua pelajar tewas akibat kecelakaan saat berupaya kabur dari kejaran kelompok pelajar lain yang membawa senjata tajam. Berdasarkan keterangan Kasi Humas Polres Tangsel, Iptu Wahyuni, peristiwa tragis ini bermula ketika para korban baru saja pulang menjadi suporter pertandingan futsal, lalu diserang oleh kelompok pelajar dari sekolah lain (detikcom, 10/10/26).


Tragedi semacam ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan alarm keras atas rusaknya moral generasi muda hari ini. Fenomena ini jelas merupakan dampak dari sistem pendidikan yang sedang berjalan. Akar dari seluruh kerusakan ini terletak pada penerapan sistem pendidikan berbasis sekuler-kapitalisme. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, sehingga gagal melahirkan generasi yang memiliki kepribadian mulia. Pendidikan saat ini terlalu berorientasi pada pencapaian akademik dan materi semata, mengabaikan pembentukan jiwa dan ketakwaan.


Di sisi lain, tidak sedikit pula peran orang tua dan lingkungan yang mengalami pergeseran. Pengasuhan dan pengawasan di dalam keluarga sering kali dilakukan sekedarnya karena kesibukan duniawi. Padahal, Islam menempatkan akidah sebagai fondasi dasar yang kokoh bagi individu, keluarga, dan masyarakat.

Lemahnya penegakan hukum juga turut memperparah keadaan. Perihal sanksi bagi pelaku kriminal di bawah umur, penegakan hukum saat ini kerap terhalang oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. Akibatnya, hukuman yang diberikan sering kali kurang memberikan efek jera yang tegas bagi pelaku, sehingga kasus serupa terus berulang tanpa ada penyelesaian yang berarti.


Untuk keluar dari lingkaran setan kekerasan ini, dunia membutuhkan solusi tuntas yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar penanganan di permukaan. Islam membangun sistem pendidikan yang bertujuan utama membentuk peserta didik yang berkepribadian Islam. Akidah Islam dijadikan sebagai landasan pola pikir dan pola sikap. Dengan akidah ini, anak didik akan memahami standar perbuatan halal dan haram serta menyadari bahwa setiap tindakan sekecil apa pun akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Negara wajib hadir secara penuh untuk mengontrol, mengawasi, dan menerapkan hukum yang tegas sesuai dengan syariat Islam. Sanksi dalam Islam berfungsi sebagai pencegah agar orang lain tidak melakukan kejahatan dan penebus dosa bagi pelaku. Dengan hukum yang tegas dan adil, keamanan umum akan terjaga.

 Peran orang tua sangat krusial dalam menanamkan akidah dan akhlak sejak dini di lingkungan rumah. Ditopang oleh kontrol sosial masyarakat yang peduli terhadap amar makruf nahi mungkar, lingkaran pergaulan negatif anak akan dapat dicegah sebelum berbuah petaka.
Sudah saatnya kita meninggalkan sistem sekuler yang terbukti gagal melindungi generasi. Islam hadir untuk memuliakan manusia, menjaga jiwa, dan merawat peradaban agar senantiasa taat kepada Allah SWT.
Allahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak