Mengarahkan Resistensi Generasi Menuju Perubahan Hakiki


Oleh: Yayat Rohayati

Visi menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi saja. Faktor penentunya justru terletak pada kualitas generasi sebagai penerus peradaban. Jika fondasi utamanya rapuh, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan tanpa makna. Salah satu persoalan paling mendesak yang dihadapi generasi hari ini adalah meningkatnya kecemasan dan gangguan kesehatan mental.

Mengutip dari Tirto.id (12 Maret 2026), Menteri Kesehatan (menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa hasil Program Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026 menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia mengalami gangguan kecemasan dan depresi.

Fakta tersebut diperkuat oleh berbagai peristiwa memilukan yang terjadi pada awal 2026. Publik dikejutkan dengan kasus seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Di Bandung, seorang pelajar terjun dari Flyover Pasupati. Sementara itu, di Demak, seorang anak berusia 12 tahun ditemukan meninggal setelah diduga bunuh diri di rumahnya. Banyak kasus serupa lainnya dan menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda tidak dapat dipandang sebelah mata.

Peradaban sekuler kapitalistik telah melemahkan potensi generasi sekaligus mengikis jati diri mereka. Pendidikan lebih diarahkan untuk mengejar nilai, prestasi akademik, dan persaingan kerja, sementara pembentukan akhlak dan kepribadian sering kali terabaikan. Di sisi lain, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak menimbulkan kecemasan akan masa depan. Kondisi tersebut diperparah oleh derasnya arus media sosial yang lebih banyak menjadi tuntunan daripada sekadar tontonan. Akibatnya, standar halal dan haram semakin tersisih dalam menentukan pilihan hidup.

Dalam kondisi seperti ini, negara belum optimal menjalankan fungsi riayah, yakni mengurus, membina, dan melindungi generasi. Berbagai persoalan yang menghimpit mereka sering kali hanya dijawab dengan kampanye motivasi. Bahkan, tidak sedikit anak muda justru menerima stigma sebagai generasi yang manja, lemah, dan kurang tangguh.

Namun, di balik tingginya angka kecemasan dan depresi, mulai tampak fenomena lain yang patut dicermati. Banyak anak muda tidak lagi menerima begitu saja realitas yang mereka hadapi. Mereka mulai mempertanyakan sistem yang melahirkan ketimpangan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, tingginya biaya hidup, kerusakan lingkungan, hingga krisis moral yang semakin nyata. Sikap kritis tersebut merupakan bentuk resistensi terhadap kondisi yang mereka anggap tidak lagi ideal.

Apabila diarahkan dengan benar, resistensi ini dapat menjadi titik awal lahirnya perubahan yang hakiki, bukan sekadar perubahan yang bersifat sementara. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh:

Pertama, membangun kesadaran berpikir yang benar. Generasi perlu diajak memahami akar persoalan yang melahirkan krisis mental, ekonomi, dan sosial sehingga mereka menyadari bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kelemahan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem yang melingkupinya.

Kedua, menguatkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan. Akidah yang kokoh akan mengarahkan generasi pada tujuan hidup yang jelas, membentuk ketahanan mental, serta menjadi standar dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Ketiga, mendorong generasi untuk terus menuntut ilmu, khususnya ilmu agama. Ilmu yang dipahami dan diamalkan akan menjadi cahaya yang menuntun manusia meraih kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat.

Keempat, mengajak generasi aktif dalam dakwah. Melalui dakwah pemikiran, masyarakat akan semakin memahami akar persoalan yang mereka hadapi sehingga terdorong untuk melakukan perubahan yang mendasar, yaitu meninggalkan sistem yang batil menuju penerapan sistem Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Dalam sistem Islam, negara menjalankan fungsi riayah secara nyata dengan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, menyediakan pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas, serta mewujudkan keamanan dan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahua'lam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak