Gen Z: Antara Kecemasan dan Harapan Perubahan


Oleh: Mimin Aminah, Ibu Rumah Tangga, Ciparay Kab. Bandung.

Berbagai survei menyebutkan bahwa Generasi Z (Gen Z) di Indonesia menjadi kelompok yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Hal ini sebagaimana dilansir oleh GoodStats.id (25 Juni 2026).

Sebanyak 80% Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan. Namun, di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, mereka justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menyimpan persoalan secara pribadi, Gen Z mulai memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan hidup.

Kesadaran tersebut terlihat dari cara mereka merespons masalah emosional. Hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental percaya pada layanan profesional, seperti konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat-obatan sebagai ikhtiar untuk pulih. Namun, di balik kesadaran tersebut, tekanan yang mereka hadapi juga tidak ringan.

Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama dengan persentase mencapai 60%. Selain itu, tekanan finansial menjadi faktor signifikan sebesar 57%, diikuti ekspektasi sosial sebesar 42%, serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali sebesar 36%.

Dampaknya tampak dalam berbagai bentuk gangguan yang dialami sehari-hari. Perubahan suasana hati (mood swing) menjadi masalah yang paling banyak dialami, yakni 62% responden, disusul gangguan tidur (50%), kesulitan mengelola emosi (58%), serta kecemasan berlebihan (38%).

Survei tersebut melibatkan 1.158 responden dari kalangan Gen Z dan dilaksanakan pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring menggunakan aplikasi Jakpat. Sampel disusun berdasarkan proporsi pengguna internet di Indonesia dengan margin of error di bawah 5%.

Meski demikian, terdapat paradoks yang menarik. Di satu sisi, Gen Z disebut sebagai generasi yang paling rentan dalam sistem ekonomi formal. Namun, di sisi lain mereka juga dinilai sebagai generasi yang paling tangguh secara emosional. Kemampuan mengenali, menerima, dan mencari solusi atas persoalan kesehatan mental menjadi kekuatan yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya.

Krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan oleh berbagai hal yang lahir dari peradaban sekularisme kapitalisme. Salah satunya ialah fenomena bed rotting yang kini menjadi tren di kalangan Gen Z dan pelajar, yaitu menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur sambil menggulir media sosial, menonton video, bermain gim, atau sekadar menghindari aktivitas di luar rumah dengan dalih healing atau self-care.

Kecemasan yang dialami Gen Z hari ini bukan sekadar persoalan kesehatan mental individu. Kondisi tersebut lahir dari sistem sekularisme kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan serta menjauhkan generasi dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, mereka miskin keimanan dan kehilangan pedoman hidup. Mereka pun mencari eksistensi melalui validasi duniawi yang justru semakin menambah tekanan hidup.

Di sisi lain, negara juga dinilai abai dalam melakukan riayah terhadap generasi. Alih-alih dirangkul, mereka justru diberi stigma sebagai "generasi stroberi", yaitu generasi yang dianggap lemah, mudah menyerah, dan malas oleh generasi di atasnya.

Namun, di balik kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang berpotensi menjadi titik balik. Kecemasan dan sikap kritis yang dimiliki Gen Z dapat menjadi peluang untuk bangkit menuju kondisi yang lebih baik.

Ketika fenomena ini menggejala di berbagai belahan dunia, Islam hadir bukan sekadar sebagai ajaran ibadah mahdhah, melainkan sebagai solusi atas krisis kehidupan. Penerapan Islam secara kaffah diyakini akan menghadirkan rahmatan lil 'alamin, membawa ketenangan, keadilan, dan keselamatan bagi seluruh manusia.

Dalam sistem Islam, negara tidak akan membiarkan generasi muda berjuang sendirian ataupun memberi stigma buruk ketika mereka terpuruk. Negara berperan sebagai pelindung dan pelayan umat dengan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat secara adil, mulai dari sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan, hingga pendidikan yang berkualitas dan merata.

Sejarah pun mencatat masa ketika pemuda tidak dibiarkan rapuh, cemas, ataupun kehilangan jati diri. Di bawah naungan peradaban Islam, lahir generasi yang berkepribadian Islam, tangguh, dan unggul dalam berbagai bidang keilmuan. Kita mengenal Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia muda, serta Ibnu Sina yang meletakkan dasar-dasar ilmu kedokteran dunia.

Karena itu, sudah saatnya generasi hari ini bangkit. Kecemasan dan kegelisahan yang berkecamuk di dalam diri hendaknya menjadi sinyal kesadaran bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Sudah saatnya mereka mempelajari dan mengemban mabda Islam di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap kondisi umat merupakan langkah awal menuju perubahan besar agar masa depan yang gemilang, adil, dan penuh berkah benar-benar terwujud, bukan sekadar angan-angan.

Allah Swt. berfirman:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110).

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak