Oleh: Eka Ummu Hamzah
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Publik)
Puncak dari kalender Hijriyah adalah Dzulhijjah. Pada bulan ini, umat Islam menyempurnakan rukun Islam yang ke lima, yakni berhaji ke Baitullah. Setiap Muslim pasti menginginkan berkunjung ke Baitullah dan menunaikan ibadah haji. Meski rangkaian manasik haji ini begitu melelahkan, tapi penyelenggara dah jamaah haji begitu antusias dengan harapan mendapat balasan surganya Allah SWT.
Pemerintahan Arab Saudi melalui Geberal Authorithy for Statistics/ GASTA) mencatat data final jama'ah haji tahun 2026 ini sebanyak 1. 707.301 jiwa. Keseluruhan jamaah haji ini datang dari 166 negara yang berbeda termasuk Arab Saudi. Sedangkan, jamaah haji dari Indonesia menduduki posisi pertama dengan jamaah haji terbanyak, yakni 221.000 jamaah, setara dengan 13 persen total jamaah haji sedunia. (AMPHURI, 27 Mei 2026).
Sekilas, ibadah haji ini nampak seperti ritual ibadah lainnya. Namun, jika melihat dari sisi yang lain, maka akan nampak hakikat dari pesan haji ini, yakni persatuan ukhuwah Islamiyyah dan kebutuhan akan satu kepemimpinan Islam yakni Khilafah Islamiyyah. Makna politik inilah yang sering dilupakan atau bahkan diabaikan oleh kaum muslimin. Hal yang lebih di tonjolkan dalam haji ini justru ritual manasik haji semata, yang dimana hal ini ternyata belum mampu memberikan dampak persatuan, kebangkitan maupun pengikat bagi umat Islam seluruh dunia. Apalagi, saat ini kaum muslimin justru diikat oleh ikatan yang diwariskan kolonial penjajah seperti, nasionalisme, patriotisme, etnis dan bahasa. Ikatan-ikatan ini merupakan ikatan yang bathil, yang hanya akan melahirkan ketidak pedulian dan hilangnya solidaritas antara lain muslimin karna terhalang oleh teritorial bangsa masing-masing.
Fakta inilah yang kita saksikan saat ini. Kezaliman di Palestina sejak dicaplok oleh Yahudi Israel sampai hari ini masih belum juga usai, justru semakin brutal. Israel tidak memandang kemanusiaan, semua warga Palestina di bombardir tiada ampun tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Ribuan nyawa melayang bahkan tanpa meninggalkan jejak jasad. Adapun lembaga internasional seperti Liga Arab, OKI, PBB ternyata tidak mampu berbuat banyak. Mereka lebih tepat di sebut sebagai pecundang yang menjadi kambing dihadapan para kafir penjajah.Di benua Afrika kondisi umat pun tidak kalah memprihatinkan, penjajahan dan kelaparan yang terorganisir, adu-domba merajalela melalui kekuasaan demi kepentingan kapitalis penjajah.
Di Indonesia sendiri pun tidak kalah terjajahnya. Keculasan politik dan kapitalisasi korporasi sumberdaya alam terjadi di berbagai wilayah demi kepentingan oligarki. Alhasil, umat Islam di Indonesia hakikatnya masih dalam keterjajahan dan kezaliman. Dunia pun paham, jamaah haji terbanyak berasal dari Indonesia. Banyaknya jemaah haji setiap tahunnya belum juga mampu membangkitkan negeri dan seluruh umat Islam diberbagai penjuru dunia dari keterpurukan.
Persatuan Dunia Islam.
Denha memperhatikan kondisi umat saat ini yang masih terjajah baik fisik maupun terjajah secara sistem. Maka, sudah menjadi hal yg urgen Jik kaum harus bangkit untuk membongkar segala makar-makar jahat dan melawan segala macam penjajahan dalam satu ikatan yang shahih (benar), yakin ikatan akidah Islam. Ikatan ini menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya landasan. Ikatan ini meniscayakan persamaan dalam menambah Rabb yang satu (Allah SWT), junjungan yang satu (Muhammad saw), kiblat yang satu (ka'bah), kitab yang satu (Al-Qur'an), aturan yang satu (syariat Islam), dan negara yang satu (Khilafah).
Inilah yang seharusnya diingta oleh kaum muslimin dimanapun mereka barada, meskipun mereka berbeda Mazhab, beda jama'ah, beda bahasa maupun beda wilayah. Jika saja dalam agenda akbar ibadah haji mampu menyatukan serta menyamakan persepsi orang didalamnya, sejatinya dengan mudah kaum muslimin disatukan dalam satu ikatan yang shahih, yakni ikatan akidah Islam di bawah kepemimpinan kekhilafahan Islam.
Wallahu a'lam.
Tags
Opini