#KaburAjaDulu: antara Kekecewaan Generasi dan Kesenjangan Ekonomi Dunia



Annasya



Fenomena **#KaburAjaDulu** tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Ungkapan ini menggambarkan keinginan generasi muda Indonesia untuk meninggalkan negeri ini demi mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Bukan tanpa alasan, tren ini lahir dari kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memperburuk harapan generasi muda terhadap masa depan di tanah air. So gimana menanggapi fenomena ini ?

Kenapa Anak Muda ingin Kabur ?

Tagar ini mencerminkan rasa frustasi banyak anak muda terhadap kondisi dalam negeri. Beberapa alasan utama yang mendorong mereka memilih "kabur" antara lain:

1. Kualitas Pendidikan yang Tidak Kompetitif 
   Pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Data dari “Programme for International Student Assessment (PISA)” menunjukkan bahwa Indonesia kerap berada di peringkat bawah dalam aspek literasi, matematika, dan sains. Sementara itu, banyak negara maju menawarkan beasiswa dan pendidikan berkualitas yang lebih menjanjikan, membuat generasi muda semakin tergoda untuk meninggalkan tanah air.  

2. “Sulitnya Mencari Pekerjaan dan Gaji yang Rendah”
   Tingkat pengangguran di Indonesia, terutama di kalangan lulusan perguruan tinggi, terus meningkat. Data dari “BPS (Badan Pusat Statistik)” menunjukkan bahwa pada 2024, lebih dari 700 ribu sarjana di Indonesia menganggur . Di sisi lain, negara-negara maju menawarkan lapangan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, baik untuk pekerja terampil maupun kasar.  

3. Brain Drain: Ketimpangan Global yang Makin Tajam
   Fenomena “brain drain”, di mana tenaga kerja terampil meninggalkan negaranya untuk bekerja di luar negeri, semakin meningkat. Ini disebabkan oleh globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang menciptakan kesenjangan besar antara negara maju dan negara berkembang. Akibatnya, negara berkembang seperti Indonesia kehilangan banyak talenta terbaiknya yang lebih memilih berkontribusi bagi negara lain.  

 Akar Masalah ada pada kapitalisme 

Fenomena ini bukan sekadar masalah individu, tetapi merupakan cerminan kegagalan sistem ekonomi-politik dalam negeri. Kapitalisme yang menjadi dasar sistem ekonomi saat ini telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang semakin tajam. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dalam skala global, di mana negara-negara berkembang semakin tertinggal dibandingkan negara maju.  

Negara seharusnya hadir untuk memastikan kesejahteraan rakyatnya. Namun, dalam sistem kapitalisme, kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup.  

Solusi Islam untuk Mengakhiri Brain Drain dan Kesenjangan Ekonomi

Islam memiliki sistem yang jelas dalam menjamin kesejahteraan rakyat dan mencegah fenomena ‘brain drain’  

1. Negara Bertanggung Jawab Menyediakan Lapangan Kerja
   Dalam Islam, negara diwajibkan menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki baligh. Negara harus mengelola sumber daya alam dengan baik untuk menciptakan industri, pertanian, dan perdagangan yang kuat, sehingga membuka banyak peluang kerja bagi rakyat.  

2. Sistem Pendidikan yang Mencetak SDM Berkualitas dan Loyal pada Negeri
   Dalam sistem Islam, pendidikan bukan sekadar bisnis, tetapi merupakan sarana untuk mencetak generasi yang cerdas, beriman, dan siap membangun negeri. Negara harus menjamin pendidikan berkualitas bagi seluruh warganya dan memastikan mereka memiliki peluang untuk berkembang di dalam negeri.  

3.Distribusi Kekayaan yang Adil dan Sejahtera
   Islam memiliki mekanisme ekonomi yang menjamin kesejahteraan rakyat secara adil. Kekayaan alam yang melimpah dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan dikuasai oleh segelintir orang atau pihak asing. Dengan demikian, tidak akan ada lagi alasan bagi generasi muda untuk meninggalkan negeri sendiri demi kehidupan yang lebih baik.  

Penutup

Tren **#KaburAjaDulu** menunjukkan betapa banyak anak muda yang kehilangan harapan terhadap masa depan di negeri ini. Kapitalisme yang diterapkan saat ini telah gagal memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat. Islam menawarkan solusi konkret dengan sistem ekonomi yang adil, pendidikan berkualitas, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.  

Sudah saatnya kita berpikir ulang: apakah kita akan terus membiarkan generasi muda "kabur" karena ketidakadilan sistem ini? Ataukah kita siap membangun perubahan untuk mewujudkan dunia yang lebih adil dan sejahtera?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak