Lindungi Dunia Pendidikan dari Sekulerisme Bukan Radikalisme



Oleh : Netty al Kayyisa  
 
Memasuki tahun ajaran baru, dunia pendidikan terutama Pendidikan Tinggi, harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham dan gerakan kekerasan, sebagaimana arahan dari Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono. Paham dan gerakan tersebut adalah intoleransi, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Wakapolri menyebut jika paham radikalisme dan terorisme ini berpotensi besar menghancurkan bukan saja negara tetapi kemanusiaan dan perdaban kita. Benarkah narasi ini? Apa makna intoleransi, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme yang diklaim dapat menghancurkan negara ini?  
 
Intoleransi seringkali didefinisikan sebagai sikap tidak mau menerima keberagaman, anti sosial dan tidak mau mengakui agama lain. Ekstrimisme jika dulu orang menyebutnya dengan fanatik. Mengagungkan agamanya, menginginkan penerapan agama secara langsung dalam seluruh aspek kehidupan, menjalankan agama dimanapun dia berada, tidak mengakui dan melestarikan kebudayaan lokal dan sebagainya. Maka sikap seperti ini bisa masuk dalam kategori ekstrimisme. Radikalisme yang menurut wakapolri adalah pintu terakhir sebelum menggumpal menjadi terorime adalah sikap atau mental yang menyetujui dan mendukung aksi-aksi kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. Bahkan BIN ketika merilis nama-nama ustad radikal menyebutkan ciri-ciri radikal  diantara adalah pro khilafah, menolak budaya barat.  
 
Jika menggunakan definisi yang sudah disebutkan dan kadang masih bisa ditarik ulur sesuai kebutuhan, dan sering kali yang disasar dari isu ini adalah kaum muslimin, maka apakah benar seseorang atau mahasiswa sekalipun yang tidak mau mengakui kebenaran agama lain disebut intoleran? Tidak mau mengikuti perayaan agama lain disebut intoleran? Bukankah dalam Islam jelas “Lakum dzii nukum wa liyadiin”? Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Sikap ini tentunya tidak berimbas apa-apa. Ketika dia tidak mencampuri agama orang lain, tidak mau peduli dengan perayaan agama orang lain,  toh tidak akan merugikan siapapun dan tidak mengganggu siapapun. Mengapa mesti dipersoalkan? 
 
Jika yang dimaksud dengan ekstrimisme adalah sikap mengagungkan agama, bukannkah itu wajar bagi seseorang yang beragama? Menganggap agamanya yang benar sementara yang lain salah. Taat pada agamanya, menerapkan agamanya dalam seluruh aktivitas, dimana letak kesalahannya? Bukankah itu yang dikehendaki oleh seluruh agama, bahwa umatnya taat dengan agamanya itu? Jadi sebenarnya sikap ini juga tidak ada masalah.  
 
Jika yang disebut radikalisme adalah menyetujui tindak kekerasan tentu kita juga tidak setuju dengan sikap tersebut. Siapapun, agama manapun tidak pernah mengajarkan kekerasan. Tetapi jika yang diangap radikalisme juga adalah yang pro khilafah dan anti budaya barat, ini perlu diluruskan kembali. Khilafah adalah ajaran Islam. Ada dalil tegas bahwa memang itu bagian dari Islam. Bahkan di dalam Islam disebutkan sebagai mahkotanya kewajiban. Jika ada orang Islam meyakininya, apakah itu salah? Meyakini ajaran agamanya sendiri? Dimana letak salahnya? Juga jika menolak budaya barat disebut radikal, justru ini yang harus dipertanyakan. Karena budaya barat identik dengan kemaksiatan. Hedonis, gaya hidup bebas, mabuk, judi, mementingkan kepentingan pribadi.  Ini sebagian dari budaya barat. Yang jelas budaya ini sangat bertentangan tidak hanya dengan agama tetapi juga adat ketimuran kita. Jadi, menolak budaya ini apakah salah? Dimana letak kesalahannya?  
 
Setali tiga uang dengan radikalisme adalah terorisem. Paham yang menimbulkan teror di tengah masyarakat. Kita semua sepakat untuk menolak paham ini. Tidak dibenarkan mengganggu ketertiban masyarakat, meneror dalam bentuk apapun. Verbal maupun perbuatan. Hanya saja, selama ini yang disebut terorisme sering kali dihubungkan dengan Islam dan kaum muslimin. Jika yang melakukan teror bukan orang Islam, maka tidak disebut teroris. Hanya disebut KKB. Ini jelas sebuah bentuk ketidakadilan dan perlu diluruskan.  
 
Sebenarnya ada satu isme yang lebih berbahaya daripada isme-isme yang lain.

Yaitu sekulerisme dan anak turunnya, liberalisme.  Paham memisahkan agama dari kehidupan.  Paham ini awal muncul karena dominasi gereja pada kehidupan. Sehingga para pemikir barat menghendaki gereja jangan ikut campur masalah dunia.  Masalah agama biarkan di gereja-gereja, masalah kehidupan dunia biarkan manusia memikirkannya.  
 
Jika tidak menggunakan agama, lalu dengan apa mereka mengatur kehidupannya? Dengan akal pikirannya. Karena manusia diberi kelebihan oleh Pencipta memiliki akal, mamapu memikirkan tentang kehidupannya, mengambil keputusan dan menentukan baik dan buruk. Hanya saja mereka lupa, akal tetap memiliki keterbatasan. Tanpa ada standart yang satu maka akal bisa diajak traveling kemana-mana. Memikirkan yang tidak bisa dipikirkan sehingga memutuskan dengan segala keterbatasannya. Tidak melihat pada hakekatnya. Manusia juga memiliki nafsu. Yang jika itu dominan dalam dirinya, maka bisa menguasai akal sehatnya.  
 
Ketika manusia menggunakan akal untuk memutuskan segala sesuatu, maka masing-masing orang berbeda sesuai dengan nafsu dan keinginannya. Naluri kebebasan yang ada dalam dirinya akan mendorongnya bersikap dan berpikir bebas. Maka akan melahirkan paham liberalisme yang tak kalah berbahayanya dibanding sekulerisme.  
 
Dengan liberalisme, manusia berpikir bebas melakukan apa saja. Dia bebas berpikir dan mengeluarkan pendapat. Menghina, mencaci maki siapapun tanpa mengenal batasan. Dia bebas beragama. Karena agama hanya formalitas saja. Bahkan tak beragamapun tak mengapa. Hari ini Kristen, esok jika ada kepentingan bisa masuk Islam. Setelah kepentingannya selesai bisa pindah ke agama lain lagi. Dia bebas pula bersikap. Berperilaku, berpakaian sesuai kehendak hatinya. Melanggar batas-batas atau norma yang ada. Dia mau zina, kumpul kebo, menggunakan bikini, menyendiri, atau apapun perbuatan yang diinginkannya maka dia bebas melakukannya. Tak boleh ada yang mengganggu atau mengekangnya. Dia juaga bebas berekonomi. Memiliki  harta, menguasai harta orang lain maupun harta milik umum, menindas untuk kepentingan diri hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Bisa dibayangkan jika ini terjadi, kondisi masyarakat seperti apa yang akan terbentuk? Seperti di hutan yang mengenal sistem raja rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Kehidupan tanpa moral. Tanpa aturan semau dan sebebas diri sendiri. Penyakit merajalela tidak hanya penyakit fisik tetapi juga penyakit mental yang mengerikan. Peradaban seperti apa yang akan terbentuk dengan kondisi seperti ini?  
 
Jelas ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Berbahaya bagi kemanusiaan. Menghasilkan peradaban sakit dan terpuruk secara perlahan. Hancur mengenaskan sebagaimana peradaban sebelumnya. Dan bersiap menghadapi adzab yang lebih mengerikan karena keluar dari apa yang telah digasriskan penciptanya.  
 
Jadi, sudah tampak mana yang lebih berbahaya antara radikalisme atau sekulerisme dan paham turunannya. Selayaknya masyarakat khususnya dunia pendidikan melindungi generasi mudanya dari virus sekulerisme liberalisme bukan radikalisme. Karena bahaya yang mengancam jauh lebih besar dan berimbas pada peradaban. Tidak hanya mengahncurkan sebuah negara, menghancurkan peradaban sekaligus menghancurnya entitas manusia. Waalahu’alam bi showab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak