Potret Kapitalisme dalam Penanganan Krisis Iklim Dunia

Oleh: Yuke Octavianty
(Komunitas Pejuang Pena Dakwah)


Drastisnya perubahan iklim kian dirasakan. Banjir bandang, longsor, dan beragam bencana iklim lainnya. Banjir bandang kota Batu (kompas.com, 4/11/2021), banjir bandang Alor ( kompas.com, 6/11/2021), merupakan beberapa gelintir bukti abainya manusia dalam memelihara alam. 

Penggundulan hutan yang tak berkesudahan menjadi salah satu pemantik rusaknya keseimbangan alam. Di tengah KTT Iklim yang diadakan di Glasgow, Inggris, COP 26 (Conference Of Parties), Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup justru menyajikan pernyataan yang cukup mencengangkan. Menteri KLHK, Siti Nurbaya Bakar menyatakan bahwa pembangunan besar-besaran era Presiden Joko Widodo tak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau deforestasi hutan (tempo.com, 5/11/2021). Tentu ucapan tersebut menuai hujan kritik. Siti Nurbaya, yang notabene sebagai menteri kehutanan dan lingkungan hidup, dianggap tak peduli dengan deforestasi hutan. Penggundulan hutan yang kian masif dilakukan para oknum terkait. Bahkan akibatnya langsung dirasakan masyarakat berupa banjir bandang karena tak ada lagi daerah resapan air. 

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad menyatakan bahwa tidak harus memilih antara pembangunan dan menghentikan deforestasi. Nadia mengungkapkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang mengedepankan pembangunan yang tidak merusak lingkungan. Termasuk hutan dan lahan. Keduanya dapat berjalan harmonis tanpa saling libas (tempo.com, 5/11/2021). 

Fakta lain yang juga membuat heran masyarakat dunia, para petinggi dunia yang menghadiri KTT Iklim, COP 26, Glasgow, menggunakan transportasi jet pribadi. Tak kurang dari 400 jet pribadi "parkir" di kota Glasgow, Skotlandia (kumparan.com, 2/11/2021). Guna membahas perubahan iklim global akibat emisi karbon. 

Berdasarkan media Inggris Daily Record, kedatangan ratusan jet pribadi itu memicu polusi berupa emisi karbon sebanyak 13 ribu ton. "Jumlah itu jauh lebih dahsyat dari rata-rata emisi karbon yang dihasilkan penduduk Glasgow dalam setahun," tulis dailyrecord.co.uk, Senin kemarin (1/11).  

Alih-alih ingin menyelamatkan dunia, tapi mengapa menyebabkan polusi yang luar biasa? Inikah tujuan utama COP 26?

Aneh tapi nyata. Umat pun mulai heran dengan segala tingkah pejabat dunia. 

Potret ketidakadilan iklim semakin jelas terpampang. Mulai dari penghijauan batubara, segala yang justru mengarah pada deforestasi, biodisel sawit, tak mendukung hutan masyarakat adat. Solusi yang disuguhkan justru malah memperburuk keadaan. Semakin merangsang kemarahan dunia. Tentu segala hal ini melahirkan kejahatan kemanusiaan. Yang berujung pada kesengsaraan hidup umat dunia.

Salah satu lembaga pegiat lingkungan hidup, Koalisi Bandung Berisik, menyuarakan pendapatnya tentang buruknya para pemangku kebijakan dalam menanggapi isu perubahan iklim. Dan mendesak solusi sistematis dari segala lingkaran isu iklim yang kian memburuk (kapol.id, 5/11/2021).

Bukankah Allah SWT. memerintahkan kita untuk memelihara alam?

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya,
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. Ar-Rum 30: 41)

Solusi palsu yang hanya mengedepankan ekonomi.  Mengutamakan pendapatan materi. Tanpa peduli dengan nasib alam dan umat yang ada di dalamnya. Kapitalisme telah membutakan manusia dan merusak seluruh aspek kehidupannya. Hingga materi dan keserakahan dijadikan sebagai raja. Inilah yang kini sedang melanda dunia. 

Solusi perubahan iklim yang kini tengah dicari, tak diikuti langkah-langkah yang seiring dengan kebutuhan alam dan lingkungan. Namun, justru dibelokkan oleh kepentingan ekonomi sekelompok oligarki yang terus menjamur. Tentu, hal ini berakibat pada keadaan dunia yang kian terpuruk. 

Pakar tafsir Imam Abu Hayan dalam tafsirnya yang bertajuk al-Bahr al-Muhith menegaskan, pelestarian alam atau lingkungan menjadi misi para nabi sepanjang sejarah. Nabi Shalih AS diperintahkan kepada Kaum Tsamud untuk konsisten di jalan tauhid, kemudian mengoptimalkan peran mereka sebagai pemimpin di muka bumi, dan seruan terakhir agar mereka mendayagunakan potensi alam di muka bumi secara proporsional.

Kitab Fiqih bi'ah karya Syekh Yusuf Al Qardhawi (2001),  “Ri’ayat al-Biah fi Syariat al-Islam” menuliskan bahwa ada delapan konsep pemeliharaan kelestarian alam, yaitu (1.) penghijauan dan reboisasi, (2.) aktivasi lahan mati, (3.) menjaga kebersihan dan kesucian, (4.) pengelolaan sumberdaya alam, (5.) menjaga suberdaya manusia, (6.) berlaku baik pada alam, termasuk seluruh makhluk hidup maupun benda mati yang ada di bumi, (7.) menghindari perusakan dan (8.) menjaga keseimbangan alam. Konsep yang begitu sempurna dalam Islam.

Aturan ini dapat sempurna diterapkan hanya dalam sistem Islam. Islam sangat concern terhadap umat, lingkungan dan hubungan keduanya. Keseimbangan dalam kehidupan hanya dapat diraih dengan sempurnanya penerapan syariah Islam. Dan syariah yang menyeluruh hanya dapat diterapkan dalam institusi khusus yaitu Khilafah Minhaj An Nubuwwah. 

Wallahu a'lam bisshowwab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak