Oleh : Eli Yulyani (Muslimah Peduli Umat)
Kata Hijrah tidak lagi terdengar asing ditelinga kita, terlebih lagi dipergantian tahun 1440 menuji 1441 H saat ini. Banyak tema hijrah yang dipakai kaum muda dan kalangan artis hijrah dalam menggelar berbagai acara, begitupun dikalangan masyarakat umum, pergantian tahun baru hijriyah tahun ini di adakan begitu masif, ghirahnya sangat terasa, hingga banyak kalangan yang anti Islam merasa gerah dan kepanasan dengan moment ini.
Makna Hijrah adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Sedangkan definisi Hijrah secara syar'i adalah keluar dari darul kufur menuju darul islam (An-Nabhani, asy syakhsiyyah Al-islamiyyah, 11/276). Dan inilah makna hijrah yang hakiki yang harus kita perjuangkan.
Umat islam di negeri ini mulai tersadarkan dan mulai banyak yang mencari tahu tentang islam yang sebenarnya, dengan kata lain, mulai membuka mata dari kejenuhan dan kedzoliman yang terus menerus disuguhkan rezim yang sama sekali tidak pro umat, bahkan tidak lagi segan mempolisikan para ulama, yang menurut pandangan mereka tidak sejalan dengan kepentingan, dan dianggap menghalangi berbagai agenda dan proyek mereka, maka disematkanlah kata, ulama radikal, anti pancasila, anti NKRI, yang menggiring opini di tengah masyarakat.
Ketidak adilan penguasa dengan Ideologi Kapitalisnya, makin dirasakan masyarakat di banyak kalangan, hal ini menambah ketidak percayaan umat, dan mulai mencari solusi dengan mencari tahu ajaran Islam kaffah, yang seharusnya memang menjadi sandaran hukum bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan.
Upaya-upaya kalangan anti Islam, tidaklah berbuah baik, bahkan menjadi boomerang bagi mereka dan umat semakin terpahamkan. Contohnya saja monsterisasi terhadap bendera dengan kalimat tauhid, yang terus dihembuskan, bukannya memunculkan rasa takut, tapi malah menghadirkan rasa penasaran, yang selanjutnya umat mencari tahu, dan pada akhirnya membuahkan rasa bangga, dan seolah menjadi amunisi bagi umat islam, terutama dikalangan orang-orang yang hijrah, bendera kalimat tauhid menjadi satu simbol ketaatan, dan tidak ada lagi anggapan bahwa bendera tersebut adalah milik satu golongan, tetapi milik seluruh umat islam.
Memaknai Hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, bukan saja hanya berpindah dari satu tempat atau keadaan, tetapi sebenar-benarnya hijrah yaitu menerapkan syari'at islam secara total dan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Dan saat ini adalah saat yang sangat tepat untuk memperjuangkannya, karena kerusakan moral yang sudah tidak bisa di toleril lagi, maraknya LGBT, perzinahan, perkosaan, pembunuhan, kerusakan tatanan ekonomi yang menghalalkan riba, kerusakan aqidah yang memunculkan berbagai aliran sesat. yang sesungguhnya semua itu akan mengundang azab Alloh swt. Terbukti ideologi selain islam tidak mungkin mampu membuat tatanan kehidupan manusia yang damai, adil, dan menentramkan, tapi sebaliknya menciptakan banyak mala petaka bagi kemanusiaan.
Dunia saat ini memerlukan satu tatanan kehidupan yang baru, yang akan menggantikan sistem yang bathil dengan sistem dan ideologi islam sebagai solusinya. Dengan spirit hijrah, kita akan tegakan kembali sistem pemerintahan islami, melalui pembentukan dan pembangunan masyarakat Islam, menerapkan sistem dan hukum islam, yang tentu saja akan terwujud hanya dalam sebuah institusi pemerintahan Islam (Daulah khilafah).
Tags
Opini
