Visi Misi Jelas Dan Terarah Seorang Pemimpin

Oleh : Ika Nur Wahyuni


Gelaran akbar pemilu 2019 yang akan memilih capres dan cawapres untuk periode 2019-2024 mengalami banyak kontroversi. Di antaranya adalah KPU tidak akan memfasilitasi penyampain visi misi capres-cawapres.  Penyampaian visi misi hanya akan diwakili oleh tim sukses masing-masing paslon.   

 

Selain itu, KPU bahkan membuat peraturan baru yaitu dengan menyerahkan kisi-kisi pertanyaan kepada kandidat capres-cawapres seminggu sebelum pelaksanaan debat yang akan ditayangkan secara live di berbagai media televisi pada tanggal 17 Januari 2019 mendatang. Hal inilah yang mendapat reaksi dari beberapa pengamat politik.


Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, menyayangkan sikap KPU yang membatalkan memberikan fasilitas penyampaian visi misi capres-cawapres. Menurutnya selayaknya KPU mengedepankan penyampaian visi misi agar masyarakat mengetahui arah pembangunan yang akan dilaksanakan pada 5 tahun ke depan. Ini hal yang sangat penting dan substansial dalam pertarungan politik modern. (Tribunnews, 6/1/2019)


Debat pilpres 2019 dinilai tidak akan berdampak signifikan bagi paslon capres-cawapres dalam meraih elektabilitas. Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto menilai selama ini pola kampanye dari para paslon lebih didominasi saling sindir dan gimik ketimbang hal yang lebih substansial. Arif menyarankan agar kedua paslon mengubah model kampanyenya secara radikal yaitu dengan melakukan penguatan karakter dan gagasan yang ditawarkan. (katadata.co.id, 15-1-2019).


Kepemimpinan adalah aspek yang sangat penting dalam Islam. Dan Allah mengatur hal ini secara sempurna melalui lisan Rasulullah SAW yang mewajibkan kepada kaum muslimin agar di pundaknya terdapat baiat. Ijma sahabat secara jelas telah menunjukan betapa pentingnya seorang pemimpin dalam Islam.  


Kisah pembaiatan Abu Bakar di Saqifah Bani Saidah. Di mana para sahabat menunda penguburan jenazah Rasulullah SAW yang mulia dan lebih mendahulukan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Karena hal inilah memilih seorang pemimpin harus penuh kehati-hatian karena menyangkut kepentingan dan masa depan kaum muslimin.


Pemimpin dalam Islam adalah seorang individu dengan pribadi yang kuat baik secara fisik maupun pemikiran. Paham tentang tata laksana kenegaraan dan hubungan internasional. Dan memiliki sensitivitas sebagai seorang pemimpin yang berperilaku dan bersikap sesuai dengan hukum syara’.


Ketakwaan adalah sifatnya di mana kesadaran ruhiyahnya sangat tinggi, paham setiap tingkah laku dan perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Selalu bertindak adil, amanah, dan bertanggungjawab. 


Keutamaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah menepati janji, mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugasnya, bertanggungjawab dalam menjaga kedaulatan dan kemandirian negara. Cinta kepada rakyat. Mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi dan keluarganya. 


Dia juga pembawa berita gembira untuk rakyatnya, tidak pernah menakut-nakuti rakyat dengan kekuasaannya. Selalu mempermudah dan memfasilitasi setiap urusan rakyatnya. Selain itu dia tidak pernah mengambil hak rakyatnya baik untuk kepentingan pribadi maupun golongannya. Dan ini akan terwujud apabila seorang pemimpin menerapkan hukum-hukum Allah dalam pemerintahannya. Sebagai tauladan untuk rakyat tentang hakikat takwa.


Jadi dalam Islam seorang pemimpin dituntut untuk memiliki visi misi yang jelas dan terarah berlandaskan hukum syara’ dalam penyelenggaraan negara. Sehingga rakyat tidak ragu untuk memilih atau membaiatnya karena yakin dalam kepemimpinannya akan tercipta keadilan dan kemakmuran dalam setiap lini kehidupan dan bangga menjadi rakyat di negara yang merdeka dan berdaulat. Wallahu 'alam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak