Oleh: Nafisah Az-zahrah
(Member Akademi Menulis Kreatif)
Baru-baru ini, jagad dunia maya kembali dihebohkan dengan kenaikan tiket pesawat penerbangan domestik. Keluhan dan protes para netizen terkait hal ini sempat menjadi trending topik di beberapa media online. Pasalnya kenaikan tiket domestik tersebut berbanding terbalik dengan harga tiket penerbangan internasional dengan pelayanan yang sesuai standard.
Menurut tirto.id 13 Januari kemarin, ada penyebab mengapa harga tiket bisa melambung naik, yaitu karena nilai tukar rupiah atas dolar melemah. Sebab menurunnya kurs rupiah ini membuat kenaikan variabel harga tiket mulai avtur dan suku bunga pinjaman, selain itu memang karena penggunaan standar mata uang dollar dalam leasing pesawat sangat berdampak dalam kenaikan harga tiket ini.
Namun, menurut menteri perhubungan Budi Karya, harga tersebut masih dianggap wajar, karena masih dalam lingkup tarif batas atas yang ditentukan di Permenhub no. 14 tahun 2016. Maka dari sinilah lagi-lagi muncul sikap ngawur dari para peminpin negeri ini, tanggapan bodoh dari orang intelektual, bahwasannya Menteri Perhubungan himbau rakyat untuk menerimanya dengan ikhlas, tidak terlalu berlebihan dalam menganggapi hal tersebut.
Entah apa yang mereka pikirkan sebagai intelektual negeri ini, apakah pantas mengucapkan hal tersebut kepada rakyat yang mendamba untuk tegaknya keadilan, bukankah sudah seharusnya tugas para pemimpin tersebut untuk mengurusi rakyat, jadi ketika ada suatu masalah maka tugas mereka adalah memikirkan bagaimana solusinya. Tak cukup hanya memandu rakyat untuk bersikap seperti ini atau seperti itu, sebab ketika menyoal kenaikan tiket pesawat yang melambung, sikap rakyat yang sabar tak akan pernah sedikitpun menyelesaikan masalah, karena semua itu berawal dari kebijakan yang ditetapkan penguasa.
Melihat berbagai sikap pemerintah yang abai terhadap pengurusan rakyat, semakin menunjukkan kejelasan dimana keberpihakan mereka. Standar hidup sekuler yang menghantarkan pada neoliberalis secara otomatis akan membentuk pemimpin yang acuh tak acuh terhadap pengelolaan urusan rakyat semacam ini, seolah merasa tak bersalah ketika tidak menjalankan kewajiban atas tugas yang harus mereka pikul.
Hal ini sangat berbalik dengan gaya kepemimpinan yang diajarkan islam, dimana politik tidak tentang soal kepenguasaan, tetapi bagaimana pemimpin itu bisa mengurusi rakyat dengan sebaik-baiknya. Menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan akan menyadarkan betapa berat tanggungjawab setiap pemimpin atas segala sesuatu yang dipimpinya, sungguh dosa yang besar ketika pemimpin tersebut mengabaikan hajat hidup orang banyak.
عَن اِبنُ عُمَرُ رَضِي اللهُ عَنهُمَا : أَنَّ رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُلُ كُلُّكُم رَاعِ وَكُلُّكُم مَسئُولٌ عن رَاعِيَّتِه الإمَامُ رَاعٍ مَسئُولٌ عَن رَاعِيَّتِهِ ...
“dari Ibnu Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata: Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…”
Di zaman ini sikap penguasa menunjukkan begitu jelas bahwa para pemimpin yang tidak serius mengurusi rakyat, mereka tidak menggunakan islam dalam memimpin kehidupan bernegara. Menjalarnya sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, telah membuat pemimpin tidak melibatkan Allah dalam pengurusan rakyat, tidak menggunakan timbangan syariat dalam menentukan standar publik. Padahal Syariat Allah itu berlaku dimana saja dan kapan saja, termasuk dalam urusan bernegara. Sekarang kita bisa melihat dampak kerusuhan di berbagai kebijakan yang didalandasi oleh akal manusia saja, padahal akal manusia itu terbatas dan serba kurang. Maka melalui Al-Qur’an dan Hadits, Allah sebagai Dzat sempurna yang mampu memahami manusia, menurunkan syariat-Nya untuk digunakan sebagai pedoman hidup yang mampu menyelesaikan segala permasalahan kehidupan termasuk bernegara.
Jadi, dimana lagi kita berharap selain pada Hukum Allah yang menjamin keadilan berdasarkan timbangan syariat bukan manfaat. Hanya dengan mewujudkan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, maka penerapan syariat secara kaffah yang akan membawa berkah bisa tercapai.