(sumber gambar: liputan6)
Oleh : Zumrotul Khoiriyah
(Komunitas Muslimah Pantura)
Indonesia tahun ini menjadi tuan rumah Annual Meeting International Monetary Fund and World Bank Group 2018 (AM IMF-WBG 2018). Pertemuan tahunan IMF dan World Bank Dunia berlokasi di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018. Estimasi peserta yang hadir 19 ribu partisipan dari 189 negara. Pemerintah berharap dari perhelatan akbar ini mampu menggerakkan roda perekonomian Indonesia khususnya Bali dan membuka kesempatan pemerintah menarik investasi. (detik.com)
Perhelatan akbar tahunan ini tentu mengeluarkan modal besar. Anggaran pertemuan ini dinilai oleh Rizal Ramli, Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman merupakan pemborosan uang negara. Biaya penyelenggaraan 855,5 miliar luar biasa besar. (detik.com , 5/10/2018) Menjamu tamu asing dengan sangat mewah disaat rakyat negeri ini dalam kondisi prihatin pasca bencana melanda Palu dan Donggala setelah sebelumnya Lombok juga dilanda gempa. Hingga kini penanganan recovery , rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana belum teratasi, bahkan status bencana nasional pun pemerintah enggan mengumumkan. Padahal dampak bencana sudah begitu nyata di pelupuk mata. Nyatanya penguasa negeri ini justru lebih fokus dan serius mengawal dan memfasilitasi mewah pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.
Akhirnya, apa yang diharapkan pemerintah berhasil terwujud. Pertemuan tahunan IMF - Bank Dunia 2018 telah menghasilkan kesepakatan kerjasama investasi asing masuk ke dalam negeri. Penandatangan kerjasama ini melibatkan 14 BUMN untuk 19 komitmen investasi dengan nilai kesepakatan mencapai 13,5 miliar dollar AS atau setara Rp 202 triliun. Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan jenis investasi yang disepakati terdiri atas strategic partnership, project financing, dan pembiayaan alternatif melalui pasar modal. Sektor proyek infrastruktur targetnya migas, hilirisasi pertambangan, pariwisata, bandar udara, kelistrikan, pertahanan, jalan tol, hingga manufaktur. (11/10/2018, kompas.com)
Melihat 'prestasi' pemerintah dalam hal ini akankah hidup rakyat jadi lebih berkah dan sejahtera? Atau sebaliknya rakyat akan menanggung beban derita sepanjang masa akibat kelalaian dan ambisi penguasa di bawah dikte sang pemberi investasi?
Penguasa saat ini perlu melakukan instropeksi diri. Sebagai negara yang 73 tahun merdeka, perlu mengkaji lagi realita di masa lalu. Jangan sampai mengulang kesalahan yang sama sehingga akan berbuah derita.
IMF adalah organisasi internasional beranggotakan 189 negara yang bertujuan mempererat kerja sama moneter global, memperkuat kestabilan keuangan, mendorong perdagangan internasional, memperluas lapangan pekerjaan sekaligus pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia. (Wikipedia)
World Bank atau Bank dunia adalah sebuah lembaga keuangan internasional yang menyediakan pinjaman kepada negara berkembang untuk program pemberian modal dalam rangka mengurangi kemiskinan.
Antara IMF dan Bank Dunia memiliki persamaan yakni mengatur sistem keuangan internasional dan menyediakan pinjaman kepada negara-negara yang membutuhkannya. Sesuai asas berdirinya IMF dan WB, utang berbasis riba yang ditawarkan kepada negara kreditor.
Menjadikan IMF dan Bank Dunia sebagai pengurai masalah bukanlah pilihan bijak. Banyak catatan merah yang ditorehkan keduanya terhadap negeri penerima bantuannya. Bantuan adalah istilah saja. Maknanya tetaplah utang. Bukan murni bantuan cuma-cuma, sebagaimana tidak ada free lunch bagi Barat untuk negeri jajahan.
IMF akan datang ke setiap negeri yang berkrisis dengan memberikan bantuan ibarat dewa penolong. Namun setelah masuk, ia akan bebas mendikte kebijakan di dalam suatu negeri. Pemerintah Indonesia tak berdaya saat harus menandatangani Letter Of Intent (LOI) untuk solusi krisis 1998 yang saat itu terjadi. Demi kepatuhannya terhadap LOI dari IMF, rakyat harus menanggung derita. Penguasa menerapkan kebijakan yang penuh kezaliman. Pengurangan subsidi BBM dan tarif dasar listrik, privatisasi , swastanisasi aset-aset rakyat dan sumber daya alam diperdagangkan. Hasil pertemuan di Bali menegaskan Indonesia semakin akan tergadai. Aset-aset umat akan berbagi bahkan berpindah pengelola ke tangan korporasi asing. Sungguh musibah besar sudah ada dihadapan, jika utang negara tak kunjung lunas sedangkan penguasa selalu tunduk pada perintah tuannya.
Utang yang ditawarkan IMF dan WB sejatinya bentuk penjajahan gaya baru yang akan mengancam eksistensi negara. Belajar dari masa lalu, Mesir bisa dijajah Inggris melalui jalur utang sebagaimana Perancis berhasil mencengkeram kedaulatan Tunisia. Belum cukupkah fakta saat ini, krisis telah melanda Argentina dan Yunani. Ini bukti nyata bahwa IMF bukanlah pemberi solusi ekonomi sebuah negara, namun justru krisis makin menjadi.
Saatnya negeri ini mencari alternatif solusi agar keluar dari krisis yang makin kritis. Solusi Islam adalah satu-satunya pilihan yang belum digunakan. Negeri Indonesia ibarat hamparan zamrud khatulistiwa membentang dari Sabang sampai Merauke. Sumber daya alam dan hayatinya melimpah. Aset umat adalah titipan Allah yang diamanahkan kepada pemimpin negara untuk dikelola dan didistribusikan secara merata kepada seluruh warga negara.
Pemerintah akan membangun infrastruktur dan fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat baik di bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi, telekomunikasi, dan energi. Dananya di ambil dari kas negara. Dikenal dengan sebutan baitul mal. Salah satu sumber pendapatannya berasal dari pengelolaan harta umum seperti sumber daya alam secara mandiri oleh negara. Hasilnya didistribusikan kepada setiap warga negara secara mudah, murah bahkan gratis. Kehidupan rakyat akan aman sejahtera. Bebas dari jeratan utang riba. Hidup jadi berkah jika menggunakan syariah. Tata aturan hidup terbaik di dunia dari Sang Maha Sempurna.
Wallahu a'lam bi ash-shawab