Oleh: Irwansyah
Penangkapan beberapa tokoh pergerakan yang semula dikira mampu meredam, namun tak kunjung padam. Tidak ada yang menyangka gejolak perlawanan tercetus dari seorang tua nan renta diatas kursi roda, tak terkecuali tentara Israel juga. Menangkapnya hanya sebuah kesia-siaan belaka pikir mereka. Hingga terungkaplah sosok dirinya sebagai pematik api perlawanan yang lama tertahan.
Saat itu tiba-tiba datang perintah yang melarang Syaikh Ahmad Yasin keluar rumah dari jam sembilan malam sampai pagi. Semula rumahnya ramai orang, satu persatu mulai pulang. Tepat jam sembilan lewat lima, tentara Israel datang mengepung rumah dengan jumlah yang sangat banyak dan tak terhitung. Itu mereka lakukan hanya untuk menangkap seorang Syaikh Ahmad Yasin seorang.
"Kami ada perlu dengan Anda sebentar. " ucap salah seorang Intel Israel.
"Baiklah, tapi ijinkan saya untuk berpakaian terlebih dahulu." jawab Syaikh Ahmad Yasin ketika itu.
Mereka pun meminta salah seorang anak dari Syaikh Ahmad Yasin untuk mendorong kursi roda dan menemani ayahnya. Setelahnya mereka membawa Abdul Hamid, anaknya, yang ketika itu masih berusia enam belas tahun entah kemana, sedangkan Syaikh Ahmad Yasin meringkuk di dalam penjara.
"Dengar! Kami ingin menghentikan intifadhah." salah seorang perwira dari badan intelejen mengungkapkan keinginannya.
"Lalu apa hubungannya dengan saya? Bukankah anda yang berkuasa?! " jawab Syaikh Ahmad Yasin dengan tenangnya.
"Tidak bisa! Hanya anda yang bisa menghentikan mereka." bentak perwira tersebut.
"Memangnya siapa saya, sampai-sampai hanya saya yang bisa menghentikan mereka? "
"Selembar surat pernyataan dari Anda bisa menghentikan mereka semua." tukas perwira tersebut.
"Saya tidak bisa mengeluarkan surat pernyataan seperti itu, karena memang bukan pekerjaan saya." balas Syaikh Ahmad Yasin.
"Pokoknya hari ini juga harus saya hentikan intifadhah kalian itu." perwira itu pun geram.
"Bagaimana pun juga, saya katakan kepada Anda, bahwa saya tidak ada hubungannya dengan intifadhah! " tegas ia menjawab.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin menghentikannya, kamu akan dibuang ke Libanon Selatan keluar dari tanah airmu." bentak perwira itu marah.
"Lakukan saja apa yang anda inginkan." balas Syaikh Ahmad Yasin dingin, tak merubah sikap pendiriannya.
Lalu dengan kasarnya mereka mendudukkan Syaikh Ahmad Yasin di sebuah kursi, mereka mulai menghina dan mencaci maki. Siksaan mereka lakukan membabi buta, meludahi dan menampar wajahnya. Pukulan dan tendangan bersarang di dadanya, meninggalkan bekas lebam disana. Setelah tidak mendapatkan hasil apa-apa, mereka pun mendatangkan putra Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Hamid, kehadapannya. Tubuhnya ditidurkan di lantai, empat tubuh besar menindihnya, tangan-tangan kekar mencekik dan memukulinya. Abdul Hamid meraung kesakitan. Mereka pun berkata,
"Kasihanilah anak mu itu, mengakulah, hentikan HAMAS, tidak ada gunanya Kau mengelak. Ayo mengakulah! Jika anakmu tidak ingin dipukuli."
"Tidak ada yang harus saya katakan." Syaikh Ahmad Yasin tetap menolak. Intimidasi dan penyiksaan tak membuatnya luluh. Kekuatan hatinya mengalahkan sakit dan perih yang ia rasakan. Tubuh rentanya lebih kokoh dari apa yang terlihat sebenarnya.
Mereka membawa pergi anaknya. Dua jam berselang mereka kembali dengan membawa anaknya lalu menidurkannya di lantai dan mulai menyiksanya lagi. Tubuh kecilnya terus menerima pukulan dan cekikan hingga tak ada lagi suara yang terdengar, Abdul Hamid meregang nyawa menjemput syahid mendahului ayahnya. Dan semua terjadi di depan matanya.
Penyiksaan terhadap Syaikh Ahmad Yasin masih terus berlanjut, dengan duduk di kursi selama empat hari tanpa tidur sedikit pun. Mereka melakukan penjagaan ketat yang terus berganti setiap dua atau tiga jam sekali. Sampai akhirnya tubuh Syaikh Ahmad Yasin ambruk menghujam lantai. Ia jatuh tak sadarkan diri.
Siksaan demi Siksaan itu berakibat pada kebutaan mata sebelah kirinya dan penurunan daya penglihatan mata sebelah kanannya.
Ruang penjara yang sempit dan gelap, tekanan psikologis, pemberian makanan dan pengobatan yang buruk dan tidak manusiawi, tetapi bagi Syaikh Yasin adalah sebuah kenikmatan. Di ruangan itulah dirinya mencurahkan semua tenaga dan pikirannya untuk menyempurnakan hafalan Al-Qur'an, memperdalam Ushul Fikih, kitab-kitab bahasa arab, mempelajari 23 jilid kitab fikih karya Al-Ustadz Muhammad Najib Al-Muth'i yang menyempurnakan kitab Imam An-Nawawi.
Larangan berkunjung diberlakukan, yang semula mereka memberikan ijin bagi anak laki-lakinya dan saudara-saudaranya lalu kemudian melarang dan hanya memberikan ijin bagi anak perempuan dan istrinya. Sampai kemudian mereka pun melarang anak perempuannya dan hanya tinggal istrinya sendiri yang diperbolehkan mengunjunginya.
Beberapa pemuda Palestina berusaha melakukan pembebasan terhadap dirinya. Seorang tentara Israel berhasil mereka tawan dan mengajukan penawaran kepada Israel berupa pembebasan Syaikh Ahmad Yasin sebagai gantinya. Namun sayangnya usaha itu gagal setelah tentara Israel mengetahui persembunyian mereka dan memutuskan untuk melakukan penyergapan. Para pemuda itu pun menolak menyerah dan membunuh tentara Israel yang tertawan kemudian melakukan perlawanan hingga akhirnya mereka semua syahid.
Rabu pagi tanggal 1 Oktober 1997, Syaikh Ahmad Yasin dibebaskan berkat perjanjian yang berlangsung antara Raja Husein (Jordania) dengan Benyamin Netanyahu Netanyahu (Perdana Menteri Israel) , dengan kompensasi penyerahan dua agen Israel yang tertangkap di Jordania setelah mereka gagal dalam upaya pembunuhan terhadap Khalid Misy'al, Kepala Biro Politik Hamas di Amman, Jordania. Dan setelah itu berakhirlah kisah penangkapan Syaikh Ahmad Yasin yang ketiga.
Palestina dalam persepsi Syaikh Ahmad Yasin bukanlah sekedar sebuah negeri tempat kaum muslimin bermukim. Namun lebih daripada itu, Palestina adalah negeri diturunkannya risalah-risalah kenabian, negerinya para nabi, negeri yang menjadi saksi peristiwa agung Isra' dan Mi'raj, negeri dimana Masjidil Al-Aqsho yang merupakan kiblat pertama kaum muslimin berada, negeri yang merupakan tanah haram ketiga setelah Mekkah dan Madinah, negeri dimana kelak manusia akan dikumpulkan pada saat hari berbangkit. Teramat penting kedudukan negeri Palestina di hati Syaikh Ahmad Yasin.
Syaikh Ahmad Yasin pun meyakini, tidak ada satu pun perjanjian damai yang bisa mengembalikan hak-hak bangsa Palestina. Perjanjian damai hanyalah perubahan bentuk kearah penjajahan baru berikutnya yang lebih merugikan. Tidak terkecuali perjanjian Camp David, perjanjian Madrid, maupun perjanjian Oslo. Semuanya hanyalah untuk melemahkan perlawanan bangsa Palestina terhadap Israel.
Tidak ada ketakutan dalam dirinya akan kematian. Baginya, umur seseorang berada dalam genggaman Allah, tidak bisa bertambah atau berkurang. Ia pun tidak takut akan kemiskinan, karena masalah rezeki Allah sudah tentukan bagiannya. Tidak mungkin seseorang mati, kecuali Allah telah menyempurnakan rezeki baginya. Maka, kenapa ia mesti takut? Kenapa ia mesti ragu? Rasa optimis inilah yang telah menolongnya selama puluhan tahun dalam kondisi lumpuh. Dan ia pun bersyukur kepada Allah karena memiliki keyakinan yang kuat dan bertawakal kepada-Nya.
Harapannya hanya satu yaitu, Allah meridhoi perjuangannya hingga kembali hak-hak bangsa Palestina. Ia juga menggenggam erat prinsip hidupnya,
"Allah adalah tujuan, Rosulullah sebagai teladan, Al-Qur'an sebagai pedoman, Jihad sebagai jalan hidup, dan mati fi sabilillah sebagai cita-cita tertinggi."
"Saya sangat mencintai kehidupan. Saya mencintai semua yang telah Allah ciptakan di muka bumi. Saya mencintai kehidupan dan kehidupan orang-orang. Saya tidak membenci kehidupan, saya tidak dengki terhadap seorang pun atas apa yang telah Allah berikan kepadanya. Saya menerima apa yang telah Allah berikan kepada saya. Akan tetapi saya menolak kehinaan, kerendahan dan permusuhan. Saya menginginkan kebaikan untuk bangsa saya, umat saya, dan seluruh dunia, dan saya selalu optimis akan hal itu. Saya manusia yang hidup dengan satu harapan, agar Allah selalu meridhoi saya. Sedangkan ridho-Nya tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya, dan taat kepada Allah itu ada di dalam jihad. Jika harapan saya ini terwujud maka ini adalah karunia-Nya, dan jika saya mati sebelum tercapainya harapan tersebut, setidaknya saya telah berusaha melangkah."
Bangsa Palestina tidak selamanya lemah, begitu pula dengan bangsa Israel tak selamanya kuat. Kelak akan dipergilirkan masa dimana bangsa Palestina mampu bangkit dan mengalahkan kekuatan Israel.
Tidak mengherankan jika kemudian berbagai percobaan pembunuhan terhadap dirinya dilakukan. Tanggal 6 September 2003, serangan helikopter Israel ke sebuah rumah dimana Syaikh Ahmad Yasin dan rekannya, Ismail Haniyah, berada di dalamnya. Qodarullah, mereka selamat dari serangan mematikan itu.
Senin pagi 22 Maret 2004 menjadi saksi akhir perjuangannya. Sudah menjadi kebiasaan Syaikh Ahmad Yasin menunaikan sholat subuh berjamaah di Masjid Al-Mujamma' Al-Islami. Sebuah masjid yang ia bangun di kota Gaza dan memiliki hubungan erat dengan dirinya saat ia menjadi khatib dan menyerukan Jihad melawan Israel.
Beberapa meter setelah ia keluar meninggalkan masjid, sebuah rudal dari helikopter Apache menerjang tubuhnya. Ia dan dua orang pendorong kursi rodanya terlempar jauh ke tanah, kursi rodanya tinggal kerangka yang hangus terbakar menjadi arang diantara api yang membumbung dan asapa yang mengepul. Sesaat kemudian rudal kedua dan ketiga menghancurkan tubuh Syaikh Ahmad Yasin menjadi potongan-potongan kecil yang berserakan, menempel pada dinding-dinding dan atap-atap rumah di tepian jalan. Jalanan bersimbah darah. Jalanan berubah merah.
Sebuah jip berwarna hijau terlempar jauh ke depan pintu rumah salah seorang warga dengan bercak darah serta potongan daging pada bagian sampingnya. Sembilan orang warga turut menjadi korban saat ingin menyelamatkannya serta lima belas lainnya luka-luka. Bentuk kebiadaban seperti apa yang pantas disematkan untuk bangsa Israel yang begitu sadis dan keji membunuh manusia pilihan ini.
Pagi itu, Syaikh Amad Yasin menyempurnakan perjuangannya dengan kesyahidan. Pagi yang meninggalkan tangis dan duka bagi bangsa Palestina dan kaum muslimin dunia. Ia bukanlah syuhada yang pertama di negeri Palestina dalam perjuangannya, telah berlalu sebelum dirinya para syuhada yang telah memberikan darahnya untuk negeri an-biya. Ia juga bukan syuhada terakhir yang mengorbankan jiwanya untuk Palestina, karena sesudahnya akan ada banyak pemuda-pemuda yang akan meneruskan perjuangannya.
Siapa mengira, seorang pria tua dan lumpuh pernah hidup diantara puing-puing reruntuhan negeri dan bangsanya. Bagi manusia berhati lemah, reruntuhan tidak mungkin menyisakan harapan. Namun tidak bagi manusia berjiwa langit ini, kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Siapa mengira, diatas kursi rodanya ia mampu membuat hidung tentara Israel tersungkur ke tanah. Siapa mengira, dengan kondisi kesehatannya yang buruk mampu membangkitkan kesadaran umat dari keterjajahan.
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab : 23)