Oleh : Jalila Syarif, S.Pd.
(The Voice Of Muslimah Papua Barat)
Berkali-kali kita mengelus dada ketika mendengar dipemberitaan tentang potret remaja saat ini. Remaja yang menjadi harapan bangsa ini justru banyak diwarnai raport merah. Sungguh miris, ketika banyak sekali anak-anak asli Papua di Kota Sorong yang selalu menghiasi hari-harinya dengan menghirup Lem Aibon dan yang lebih membuat miris dan sesak dada adalah hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah ditengah anak-anak papua.
Kepolisian Resor Sorong Kota, Bhabinkamtibmas Polsek Sorong Kota terus meningkatkan patroli guna mencegah dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di sekitar. Patroli melewati perumahan pertamina dan menemukan 3 anak pelajar yang masih menggunakan pakaian seragam sekolah sedang duduk dan sambil menghisap Lem Aibon. Bhabinkamtibmas langsung menangkap dan membawa ke polsek sorong kota guna mendata identitas siswa tersebut, sabtu(21/4/2018).
Penyalahgunaan lem aibon di wilayah Provinsi Papua Barat semakin mengkhawatirkan dengan jumlah kasus yang hampir mendekati angka 1.000. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua Barat, Brigjen Pol Untung Subagyo di Manokwari, Jumat, mengatakan, sebagian besar kasus ini terjadi pada anak dan remaja. Jumlah kasus lem aibon di daerah tersebut pada tahun 2017 sudah sekitar 900 kasus, tersebar di beberapa daerah. Adapun Kota Sorong dan Manokwari dinilai memiliki jumlah kasus paling tinggi (radarsorong.com).
Fenomena lem aibon ini bukan hanya terjadi di Papua, bahkan di kota-kota besar pun banyak kita temui remaja-remaja menghiasi hari-hari nya dengan menghirup lem aibon. Fenomena seperti ini sering kita jumpai di pinggiran jalan-jalan umum, gang-gang kompleks, bahkan mereka mempunyai komunitas dan genk tersendiri.
Bahaya Aibon
Lem aibon merupakan unsur kimia berbahaya. Lem ini sebenarnya adalah zat perekat yang dipakai untuk merekatkan berbagai benda seperti sandal, sepatu dan sebagainya. Namun, zat tersebut disalah gunakan oleh manusia.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso menegaskan bahwa penyalahgunaan lem aibon pada anak-anak selain bisa menimbulkan kecanduan, juga bisa menyebabkan kerusakan pada sel otak. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. Bukan telernya saja, tapi ada kerusakan permanen pada sel otak, maka itu yang dinyatakan sangat berbahaya," kata pria yang akrab disapa Buwas usai menjadi pembicara diskusi di Kantor Fraksi PKS, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (7/12).
Efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup meliputi gejala-gejala sebagai berikut:
1. Denyut jantung meningkat
2. Mual-muntah
3. Halusinasi
4. Mati rasa atau hilang kesadaran
5. Susah bicara atau cadel
6. Kehilangan koordinasi gerak tubuh.
Selain itu Uap solven nya bisa terakumulasi di jaringan tubuh, dalam jangka panjang jika terhirup terus menerus bisa memberikan efek jangka panjang. Di antaranya adalah :
1. Kerusakan otak (bervariasi, mulai dari cepat pikun, parkinson dan kesulitan mempelajari sesuatu).
2. Otot melemah
3. Depresi
4. Sakit kepala dan mimisan
5. Kerusakan saraf yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara.
Ngeri bukan? Jika generasi muda bangsa ini terperangkap dalam dunia aibon, maka apa lagi yang bisa diharapkan dari mereka? Padahal mereka adalah aset berharga bangsa ini. Dan sejarah bangsa ini tercatat bahwa kaum muda mempunyai peran besar dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan.
Ada Apa Dengan Remaja Saat Ini?
Remaja saat ini benar-benar dalam keadaan memprihatinkan. Mereka mengalami krisis identitas. Pendapat banyak ahli mengatakan bahwa masa remaja adalah masa transisi, dimasa ini mereka mulai mencoba mencari hal-hal baru. Maka sering kita temui, mereka tidak mampu mengendalikan emosi, tidak mampu menempatkan diri dengan teman sebayanya, mudah mengikuti ajakan teman sebaya dengan dalih khawatir dikatakan tidak keren atau tidak gaul. Mereka tidak mengenali jati diri mereka, bahwa mereka adalah harapan bangsa ini. Saat remaja mengalami krisis identitas, maka perilaku yang dicerminkan dapat mengacu pada tindakan-tindakan negatif. Seperti fenomena mengirup lem aibon yang menjadi jalan bagi mereka untuk mengekspresikan diri mereka, tanpa memandang hasil buruk dari perilaku yang mereka lakukan.
Disisi lain, keluarga yang diharapkan mampu menjadi basis pendidikan utama bagi remaja pun terabaikan. Sistem kapitalisme yang berlaku saat ini memaksa orang tua abai dalam proses pendidkkan anak-anaknya. Kapitalisme telah menyebabkan sehingga kehidupan setiap keluarga terus tercekik. Dan pada akhirnya orang tua pun harus memutar otak untuk memenuhi kehidupan mereka dalam kehidupan kapitalistik saat ini. Para ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya tidak sempat memberikan perhatian dan kasih sayang yang paripurna. Bahkan untuk memberikan keteladanan sehari-hari kepada anaknya pun tak ada waktu karena sibuk di luar rumah, turut membantu suami mengumpalkan rezeki. Para ibu pun akhirnya banyak yang tidak lagi bisa memberikan arahan akan kehidupan yang harus dicapai anak-anaknya. Begitupun dengan sosok ayah. Ia menjadi figur yang asing bagi anak-anaknya. Tanggung jawabnya untuk menjaga keluarga dari siksa api neraka sebagaimana perintah dari Allah SWT, menjadi terabaikan. Jika orang tua telah tersibukkan siang malam bekerja untuk mendapatkan kehidupan yang layak, maka yang terjadi adalah anak tidak mendapat perhatian dan kontrol yang lebih dari orang tuanya.
Ketika krisis identitas telah melanda remaja dan orang tua pun tidak memberikan peran yang lebih untuk anaknya, maka pada akhirnya mereka berkehendak melakukan keinginannya sendiri. Mereka berperilaku dengan sebebas bebasnya tanpa memandang mana yang baik dan mana yang buruk. Liberalisme atau paham kebebasan dalam negara ini pun menjadi pendukung remaja melakukan penyimpangan. Liberalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya sendiri. Kebebasan dalam individu, berpendapat, berperilaku, beragama dll. Remaja diajarkan untuk melakukan segala hal sesuai dengan keinginan mereka sendiri tanpa ada batasan-batasan yang jelas. Paham ini tentu tidak lepas dari kebebasan HAM yang menjadi jargonnya. Semuanya atas nama Hak Asasi Manusia, sementara agama hanya dibolehkan dalam ibadah spiritual saja dan diharamkan ikut campur dalam pengaturan kehidupan manusia. Inilah yang kita kenal dengan paham sekularisme (paham yang memisahkan agama dalam kehidupan). Dengan paham ini remaja diajarkan untuk tidak mencampur adukan antara agama dan kehidupan sehingga segala sesuatu yang mereka lakukan dalam kehidupan tidak dilandaskan atas dasar halal haram.
Islam Menjadi Solusi Tuntas
Dalam pandangan Islam, agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Karena islam memiliki seperangkat aturan yang jelas dalam mengatur kehidupan manusia. Dan aturan-aturan ini harus ditaati oleh manusia yang mengatakan bahwa mereka adalah hamba Allah SWT. Karena ini merupakan konsekuensi dari keimanan. Jika remaja menyadari tentang keberadaan mereka didunia ini yakni sebagai hamba yang harus terikat dengan aturan Allah SWT maka krisis identitas tidak akan dialami oleh mereka karena mereka paham betul apa tujuan hidup mereka yang sesugguhnya.
Islam mengajarkan pada umatnya untuk mengenali agama dengan berfikir. Maka yang pertama kali yang harus difikirkannya adalah tujuan hidupnya. Dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup di dunia ini dan akan kembali kemana dia setelah kehidupan ini. maka ketika sudah terjawab bahwa, kita berasal dari Allah SWT dan akan kemabali pula pada Nya, maka tak ada jawaban lain selian bahwa, tujuan kita hidup adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Hanya ridha Allah SWT lah yang menjadi tujuan amal perbuatan kita. Sebagaimana yang Allah SWT sampaikan dalam Al-Qur'an surat Adz-dzariyat ayat 56 : "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
Ketika remaja sudah mengerti arti hidup dan mengetahui tujuan hidupnya, maka mereka tidak akan bingung lagi mencari identitas dirinya. Islam telah menjawab bahwa, kita semua adalah hamba Allah SWT yang harus terikat dengan aturan-aturan Nya. Sehingga remaja muslim akan mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang dapat menghantarkan dirinya pada Surga Allah SWT.
Islam pun memandang bahwa keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, yaknin Allah SWT.
Rasulullah saw. pernah bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala) (HR al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Orangtua wajib mendidik anak-anaknya tentang perilaku yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih teman-teman sebayanya. Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat dengan aturan Islam.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS at-Tahrim [66]: 6).
Disisi lain, masyarakat yang menjadi lingkungan remaja menjalani aktivitas sosialnya mempunyai peran yang besar pula dalam mempengaruhi baik buruknya remaja. Remaja merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Intraksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan untuk mempengaruhi remaja. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing-masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi remaja. Perkara yang akan membentuk pengaruh negatif pada remaja tentu akan dicegah bersama. Jika ada sekelompok remaja yang terbiasa nongkrong dengan kegiatan yang tidak karuan, masyarakat setempat tidak boleh diam, seharusnya bertindak membersihkan lingkungan dengan mengajak kelompok remaja tersebut mengalihkan kegiatan dengan hal yang lebih bermanfaat. Di sinilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.
Selain itu pemahaman Islam akan sampai ditengah-tengah remaja jika didukung penuh oleh pemerintah. Pemerintahan yang sekuler tidak akan mungkin mendukung penyebaran Islam. Karena sejatinya sistem demokrasi yang diemban pemerintahan saat ini adalah sistem yang berasaskan sekuler. Dan pemerintahan sekuler (paham pemisahan agama dari kehidupan) tidak akan pernah Ridho syariah Islam terterapkan secara kaffah (sempurna). Maka sangat mustahil jika kita berharap pada sistem sekuler saat ini dalam memperbaiki perilaku remaja. Hanya pemerintahan yang menerapkan syariah secara kaffah lah yang mampu mendukung secara penuh terterapkannya Islam Kaffah, yakni Islam yang diterapkan secara totalitas dalam segala lini kehidupan. Tujuan nya agar ummat ini menjadi ummat bertaqwa yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT. Wallahu a'alam bishowab.