Oleh : Hesti
Setiap tahun, Syawal datang membawa sukacita. Muslim di seluruh penjuru dunia merayakan Idul Fitri dengan bergembira karena telah menjalankan ibadah pada bulan Ramadan yang mulia. Namun tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, ada yang tak mampu merayakan dengan cara yang sama. Di Gaza, Palestina, Syawal datang bersama dentuman bom, jerit anak-anak, dan darah para syuhada. Idul Fitri bukan hanya tentang sukacita. Idul Fitri adalah tanda kemenangan. Tapi apa makna kemenangan itu jika hati kita masih tumpul terhadap penderitaan saudara sendiri? Apa gunanya takbir kemenangan jika kita abai terhadap mereka yang tertindas?
Sebanyak 710 Muslim Gaza syahid sejak Israel melanggar gencatan senjata. Bahkan Idul Fitri yang jatuh pada Ahad, 30 Maret 2025 lalu tak luput dari serangan brutal Israel. Sebanyak sembilan Muslim syahid saat menjalankan sholat Idul Fitri di pagi hari. Belum lagi, lima anak-anak pun ikut tewas saat itu juga. Zionis Israel melakukan penyerangan, pendudukan, penggeledahan, dan penangkapan terhadap warga Gaza secara membabi buta. Umat Muslim Gaza harus berhadapan dengan penjajah yang kejam dan tak mengenal belas kasih. Mereka terusir dari tanah kelahirannya. Lalu, dimanakah letak ukhuwah Islamiyah Muslim dunia saat semua itu terjadi?
Realita ini menunjukkan bahwa kebahagiaan umat Muslim belumlah sempurna, karena sebagian saudara seiman kita—yaitu Muslim Gaza Palestina—hidup dalam kesengsaraan, dengan nyawa yang terancam setiap saat. Mirisnya, semua ini terjadi jauh sebelum Ramadan bahkan Syawal tahun ini tiba. Semakin memburuknya kondisi Palestina sudah tentu mendatangkan keprihatinan. Umat Islam semakin terjepit, terhimpit, bahkan tersekat oleh batas-batas negara.
Situasi dan kondisi Gaza yang memprihatinkan ini seharusnya dapat membuka mata hati manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam, bahwa sistem hari ini sungguh sangat tidak layak menjadi sandaran kehidupan dalam membangun peradaban manusia. Sistem sekuler kapitalisme saat ini sudah memperlihatkan kebobrokannya. Mengapa kita masih bertahan dengan sistem yang sudah jelas memperlihatkan kehancuran dan kerusakannya?
Solusi fundamental untuk Gaza hanyalah sistem Islam. Sistem yang shahih dari Allah SWT. Sistem yang sudah membuktikan sejarah panjang dalam penerapannya, menghantarkan pada peradaban gemilang dengan kemajuan yang luar biasa. Hal ini sudah semestinya menguatkan keyakinan umat bahwa fajar kemenangan Islam makin dekat. Khilafah teramat sangat umat butuhkan untuk mendapatkan makna Syawal yang penuh suka cita dan kemenangan yang hakiki.
Jadikan Syawal tahun ini sebagai momentum untuk meneguhkan kembali posisi kita sebagai satu tubuh umat Muslim. Perjuangan menegakkan khilafah harus menjadi agenda utama. Karena sejatinya, Syawal bukan sekadar suka cita—namun ini adalah seruan keimanan.
Wallahu A’lam bish-shawab.
Tags
Opini
