Oleh : Kiasatina Izzati Pertiwi
(Pengajar di Karawang)
Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan modus operandi kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018-2023. Kasus tersebut menyebabkan negara rugi mencapai Rp193,7 trilliun.(Jakarta, Beritasatu.com, 25/03/2025)
Koruptor Merajalela, Rakyat Pun Menderita
Korupsi kilang pertamina hingga ratusan triliunan ini bukan hanya merugikan negara, tapi juga merugikan banyak rakyat. Sebab dengan kualitas pertamax yang lebih cepat saat mengantri, menjadi opsi kedua bagi para warga untuk mengisi bensin alih alih pertalite. Namun hasil nya, mereka semua terkena tipu daya oleh bensin yang dioplos tersebut. Bahkan banyak warga yang mengeluhkan motor maupun mobil yang rusak di sebabkan bensin yang di oplos.
Kasus korupsi yang semakin marak dan subur akhir-akhir ini seakan-akan sudah menjadi kebiasaan para pemegang kekuasaan. Menjadi kesempatan besar bagi yang memiliki wewenang untuk mengambil hak milik rakyat. Apa yang mereka ambil pun bukan nominal yang kecil, namun nominal hingga ratusan triliunan rupiah.
Kasus korupsi produk kilang pertamina ini hanya salah satu contoh dari kasus korupsi dengan total korupsi yang sangat besar. Sebab kasus korupsi lain bahkan ada yang mencapai nominal kurang lebih 371 triliun rupiah.
Kapitalis Dalang dari Semuanya
Memang, kasus korupsi sudah sering kita jumpai di sistem hari ini. Bahkan hukum yang ada di dalam sistem ini tidak memberikan sanksi yang berat bagi para koruptor, justru malah memberikan kelonggaran dan fasilitas untuk para pelaku.
Inilah bukti ketidak adilan sistem yang diemban negara hari ini, yakni kapitalis-sekuler. Sistem kapitalis akan selalu mengajarkan bahwa materi diatas segalanya. Alhasil, banyak orang yang memiliki uang atau pun jabatan memilih menghalalkan segala cara untuk mencapai apapun yang menjadi tujuan mereka. Tidak kenal "Apakah itu halal dan merugikan banyak orang ataukah tidak", selagi itu menguntungkan maka tetap akan dilakukan.
Bobroknya sistem inilah yang menjadi tempat tumbuh suburnya para koruptor. Bukan hanya koruptor, segala kasus kasus rusak baik rusaknya mental remaja, perzinahan merajalela, bahkan lebih dari itu. Semua itu lahir dari sistem kapitalis-sekuler, yang memang bertujuan untuk "Memisahkan agama dari kehidupan". Jadi, manusia bebas untuk melakukan apapun, selama hal itu tidak membahayakan negara kapitalis dan negara bisa mendapatkan keuntungan.
Jika terus memilih untuk bertahan di sistem seperti ini. Imbasnya akan kembali pada rakyat lagi. Rakyat akan semakin di rugikan dan para pengusaha dan penguasa semakin di untungkan. Bergantinya pemimpin pun bukan solusi dari masalah-masalah ini, selagi sistem yang di terapkan masih memakai kapitalis-sekuler maka tidak akan berdampak sama sekali.
Menjadikan Islam sebagai Sebuah Solusi
Adanya Islam sudah menjadi solusi tuntas bagi berbagai masalah yang ada. Baik masalah kecil maupun masalah besar. Islam hadir bukan hanya sebagai agama spiritual saja, tetapi juga menjadi aturan yang cocok menjadi hukum dalam sebuah negara, sebab berlandaskan dari Al-qur'an dan al-hadits.
Negara yang menerapkan sistem Islam tidak akan membiarkan para koruptor begitu saja. Negara akan bertindak tegas dengan memberi sanksi seberat beratnya gari para koruptor. Dan tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk para koruptor itu kabur.
Negara pun akan benar benar mendedikasikan semua fasilitas yang ada bagi semua rakyatnya. Baik itu dari segi pendidikan, sandang, pangan dan sebagainya. Berbeda sekali dengan negara yang menerapkan sistem kapitalis ini, semua fasilitas terasa sangat sulit untuk dijangkau terlebih bahan bakar yang selalu melonjak harganya dari tahun per tahun.
Maka sudah paling tepat untuk menjadikan Islam sebagai sebuah solusi dari prolematika saat ini. Yuk kita kembalikan Islam sebagai sebuah negara dengan mendakwahkan Islam kaffah secara berjama'ah.
Tags
Opini
