Kalangan Gen Z Kabur ke Luar Negeri demi Hidup Layak?



Oleh : Atik, Aktivis Muslimah



Segudang permasalahan yang ada di Indonesia membuat generasi Z tidak memiliki optimisme akan hidup layak dan sejahtera di negara ini. Pasalnya belum lama ini telah ramai trending topik tentang "tagar kabur aja dulu" di berbagai sosial media. Dilansir dari CNN Indonesia, 07/02/2025.

Fenomena tagar kabur aja dulu dimaknai sebagai bentuk kekecewaan generasi Z kepada pemerintah Indonesia. Warganet bersama-sama mengunggah berbagai informasi cara mencari beasiswa pendidikan, tips mendapatkan pekerjaan di luar negeri, les bahasa, pengalaman berkarir hingga kisah hidupnya di luar negeri.

Netizen platfom X memandang hal-hal seperti pendidikan yang layak, lapangan pekerjaaan dan jaminan kualitas hidup sebagai sesuatu yang tidak bisa diberikan negara kepada masyarakat dibanding negara lain. Lahirnya tagar kabur aja dulu ini juga berhubungan dengan fenomena  brain drain yang sudah lama terjadi, yaitu ketika orang pintar dan berbakat memilih bekerja di luar negeri. 

Data Direktorat Jendral Imigrasi Kemenkumham 2023 mencatat bahwa antara 2019 sampai 2022, sebanyak 3.912 WNI beralih menjadi warga negara Singapura, sebagian besar berada pada usia produktif yaitu 25 sampai 35 tahun. Selain itu lebih dari 100.000 orang menghadiri acara Study and Work Festival 2024 meraka mencari informasi beasiswa dan pekerjaan. Data ini menunjukkan betapa gagalnya negara ini dalam menjamin kesejahteraan bagi rakyat, sehingga mereka berniat untuk meninggalkan negera kelahirannya.

Keterbatasan kesempatan peluang pekerjaan, rendahnya gaji yang diberikan, tingginya kompetisi, serta adanya nepotisme adalah sebagai faktor pendukung mereka untuk pindah ke luar negeri. Nampaknya faktor tersebut sangat bertolak belakang dengan fasilitas yang mereka dapatkan jika di luar negeri baik itu beasiswa untuk pendidikan, penyediaan pekerjaan yang memadai hingga gaji yang jauh lebih besar serta menjanjikan kualitas hidup yang layak. 

Disistem kapitalisme ini, pendidikan dilegalkan untuk diliberalisasi yang pada akhirnya bisa dikomersilkan. Sedangkan ekonomi, perusahaan menjadi pihak yang membuka lapangan pekerjaan yang tentu saja menggunakan prinsip untung rugi, maka para pekerja berstatus menjadi faktor produksi yang sewaktu-waktu bisa dipangkas. 

Beda halnya dengan sistem Islam, dimana Islam menjadikan pemimpin sebagai raa’in yaitu pemimpin yang pada hakikatnya adalah mengurus dan melayani rakyatnya. Negara daulah hadir untuk mensejahterakan rakyatnya, yaitu dengan menyediakan pendidikan yang berkualitas yang bisa diakses oleh siapa saja secara gratis, serta menyediakan lapangan pekerjaaan dengan gaji yang layak untuk para pekerja. 

Negara juga memberikan pengawasan terhadap bahaya KKN. Jika sistem ini diterapkan tentunya tidak akan ada masyarakat yang ingin kabur dari tanah kelahirannya, sebab pos-pos kebutuhan baik pendidikan dan lapangan pekerjaan dipenuhi oleh negara daulah. Negara daulah secara maksimal menggerakkan roda perekonomian sesuai syariat Islam yang bisa mengantarkan pada kesejahteraan, kemakmuran dan keberkahan.  


Wallahualam bishshawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak