Thufan Al-Aqsa Genosida 74.237 Pelajar Palestina



Oleh Siti Aminah Aktivis Muslimah Kota Malang

Thufan Al-Aqsa adalah nama operasi yang dimulai Hamas pada 7 Oktober 2023. Setelah itu Israel membalas dengan serangan besar-besaran ke Gaza, dan perang itu berlanjut sampai sekarang.

Kesehatan Gaza melaporkan 74.237 orang tewas dan 175.206 lainnya terluka hingga 4 Oktober.Jumlah korban tewas tersebut setara dengan sekitar 3,4 persen dari perkiraan populasi Gaza sebelum perang yang mencapai 2,2 juta jiwa. Artinya, sekitar satu dari setiap 30 penduduk Gaza telah tewas.

Dari 71.444 korban yang usia dan jenis kelaminnya berhasil diidentifikasi hingga 31 Desember 2025, sebanyak 47,7 persen merupakan laki-laki, 29,8 persen anak-anak, 15,4 persen perempuan, dan 7,1 persen warga lanjut usia, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).Pada Oktober 2023 saja, sebanyak 8.805 warga Palestina dilaporkan tewas berdasarkan data World Health Organization Health Cluster. Ribuan warga Palestina lainnya diyakini masih hilang di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

Dalam pernyataan pada 3 Oktober, Hemaya Center for Human Rights mengatakan telah mendokumentasikan kematian 21.745 anak dan sekitar 46.000 kasus luka pada anak sejak Oktober 2023. Sebanyak 11.000 kasus di antaranya merupakan amputasi anggota tubuh bagian bawah.

Pusat tersebut juga melaporkan 123 anak meninggal akibat kekurangan gizi dan dehidrasi. Selain itu, 293 bayi prematur meninggal di tengah memburuknya layanan kesehatan, pemadaman listrik, serta kekurangan obat-obatan dan berbagai kebutuhan medis.Besarnya kehilangan dalam keluarga bahkan telah terlihat sejak tahun pertama perang.

Jajak pendapat Palestinian Center for Policy and Survey Research yang dilakukan pada 26 Mei hingga 1 Juni 2024 menunjukkan 61 persen responden di Gaza mengatakan seorang anggota keluarga mereka telah tewas. Sebanyak 78 persen responden mengatakan seorang kerabat mereka telah tewas atau terluka.Survei tersebut mencakup wilayah Gaza tengah dan selatan yang dapat diakses, tetapi tidak mencakup Gaza utara dan zona pertempuran aktif. Liputan6.com (09/10/2026). 

Serangan brutal Zionis Israel sengaja dilakukan untuk tujuan genosida dan perampasan wilayah Palestina. Paradigma perang negara kafir adalah penjajahan. 
Pelajar dan sekolah yang seharusnya dilindungi justru menjadi sasaran serangan. Hal ini menjadi salah satu bukti kejahatan perang. 
Para pemimpin negara adidaya, lembaga internasional dan penguasa negeri-negeri muslim tak berdaya,gagal menghentikan kejahatan tersebut. Dibutuhkan kekuatan global baru yang mampu membebaskan Palestina. 

Takdir bumi Palestina adalah menjadi tanah kharajiyyah. Yakni, tanah yang dibebaskan oleh tentara Islam dengan jihad fi sabilillah, tentara Islam yang dikirim oleh daulah khilafah, menjadi tanah wakaf untuk seluruh kaum muslimin.

Palestina pertama kali dibebaskan era Khalifah Umar raḍiyallāhu ‘anhu. Ke dua kali dibebaskan oleh jihadnya Sholahudin al Ayyubi. Dan insya Allah akan kembali dibebaskan dengan jihad para tentara khilafah yang dikomandoi oleh seorang khalifah.

Solusinya Palestina bukan merdeka tapi jihad. Jihad yang dimaksud bukan jihad bertahan dari serangan Zionis seperti yang dilakukan Hamas. Melainkan jihad pembebasan yang dilakukan oleh tentara kaum muslimin.

Hamas memang luar biasa, namun tak akan mampu keluar dari realitasnya sebagai milisi. Sekuat apa pun, kemampuan milisi tak sebanding dengan negara. Apalagi Zionis Yahudi didukung Amerika tidak sebanding sebab itu Hamas tidak pernah menang selama tiga tahun ini dimulai dari tahun 2023 sampai sekarang 2026.

Jihad yang membebaskan Palestina adalah jihad ofensif (hujumi), yang dilakukan oleh entitas negara. Entitas negara yang bisa mengirim tentara untuk berjihad membebaskan Palestina, bukan tentaranya negara-negara demokrasi saat ini karena mereka tidak mungkin mau bersatu karena mereka ada dibawah kekuasaan Amerika yang bisa mereka lakukan hanya boikot, mengecam tanpa ada aksi yang nyata

Negara yang mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina adalah negara khilafah. Sebab, solusi tuntas untuk masalah Palestina hanya khilafah.
Karena itu kita tidak boleh terlena hanya mendoakan Palestina, mengumpulkan sedekah untuk Palestina, tapi melalaikan perjuangan khilafah. Sebab, Palestina hanya bisa dibebaskan dengan khilafah, bukan dengan sedekah dan doa-doa.

Lihatlah betapa pilunya nasib saudara kita di Palestina. Dahulu saat masih ada khilafah yang berpusat di Turki, Zionis tak berani mendatangi tanah Palestina.
Bahkan Sultan Abdül Hamid II mengusir Theodor Herzl yang menawarkan uang untuk membeli tanah Palestina bagi pemukiman Yahudi. Tapi saat khilafah runtuh pada tahun 1924, tidak berselang lama entitas Zionis Yahudi tegak pada tahun 1949. Sejak saat itulah pembantaian kaum muslimin di Palestina dimulai dan terus terjadi hingga hari ini.

Khilafah tidak akan tegak jika umat ini masih qona’ah pada demokrasi. Masih menyerahkan kekuasaan pada sistem sekuler melalui pemilu. Masih melabuhkan harapan pada pesta pengkhianatan setiap lima tahun sekali.
Sudah saatnya umat fokus pada dakwah. Dakwah yang menyeru pada khilafah. Dakwah yang akan menyelamatkan negeri ini dengan khilafah, dan mengirimkan putra-putra terbaik negeri ini sebagai tentara jihad untuk membebaskan Palestina.

Paradigma perang (jihad) dalam sistem Khilafah adalah membebaskan manusia dari kekufuran bukan untuk penjajahan apalagi genosida. Jihad juga wajib dilakukan untuk melawan penjajahan dan membela kehormatan kaum muslimin. 
Syariat Islam terkait perang melindungi warga sipil, perempuan, anak-anak dan lansia. Hal ini menunjukkan kemuliaan Islam. 
Menegakkan Khilafah sebagai kekuatan global umat Islam sangat penting untuk menghentikan kejahatan perang Zionis Israel dan negara-negara kafir. 

Khilafah menjalankan misi dakwah untuk menebar rahmat bagi umat manusia seluruh dunia. Khilafah tidak hanya dibutuhkan oleh umat Islam tapi urgen untuk membangun peradaban manusia yang mulia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak