Karhutla yang semakin Mencekam

Oleh Ai Hamzah 

Api itu tak kunjung padam, karhutla yang sudah terlanjur terjadi membuat api tak beranjak. Asap yang mengepul semakin menebal hingga jarak pandang pun sangat terbatas. Udara untuk bernafas pekat dengan asap yang terus mengepul. Keadaan semakin mencekam ketika karhutla ini merambat ke daerah pemukiman. Habis sudah rumah-rumah pun terbakar oleh amukan api yang begitu dahsyat.

Api terus melahap yang ada disekitarnya. Bak lautan api yang terus merembet hingga relawan dan petugas pemadam sangat kesulitan untuk mengendalikannya. Masyarakat yang tidak berdosa menjadi korban akibat ulah keserakahan. Bayi-bayi yang baru lahir pun harus menanggung derita karhutla dengan penyakit ISPA yang dideritanya. Tidak sedikit anak-anak dan orang dewasa yang mengalami penyakit yang sama akibat asap pekat yang membuat mereka tidak bisa menghirup udara segar yang semestinya, hingga saluran pernafasan menjadi efeknya. Bahkan karhutla ini pun merenggut korban jiwa akibat tidak kuat dengan penyakit yang dideritanya.

Penderitaan akibat karhutla semakin menghimpit kehidupan masyarakat. Rumah mereka hilang terbakar, anak-anak mereka menderita sakit akibat asap pekat. Jarak pandang yang terbatas membuat mereka tidak bisa mengendalikan kendaraannya hingga kerap terjadi kecelakan. Pekat asap yang tebal menandakan amukan api yang tidak bisa dikendalikan. Hektaran hutan dan lahan habis. Akibatnya binatang satwa pun melarikan diri untuk menghindari dari kepungan api hingga ke pemukiman warga. Begitu banyak nyawa yang terancam akibat adanya karhutla yang tak kunjung selesai.

Dampak kesehatan yang paling utama dan dominan adalah potensi meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yang sering menjadi penyakit endemik saat musim Karhutla. Selain itu, paparan asap yang pekat secara signifikan akan memperburuk kondisi penderita penyakit paru kronis seperti Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta bisa menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap polutan asap dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit serius, termasuk gangguan kardiovaskular (seperti penyakit jantung koroner dan stroke) dan potensi risiko kanker paru-paru. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi, bahkan memengaruhi pertumbuhan janin. (Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, 20 Juli 2026)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merembet hingga ke permukiman warga di Desa Serdang, Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung, Sabtu (10/10/2026). Api dengan cepat meluas akibat angin kencang dan kondisi lahan kering hingga menghanguskan ratusan rumah warga.
Data sementara mencatat bahwa sebanyak 305 rumah dan 50 gedung walet telah hangus terbakar, sementara 1.152 jiwa terpaksa harus mengungsi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Petugas gabungan akhirnya berhasil memadamkan api setelah berjibaku hingga Minggu (11/10/2026). iNews.id, 12 Oktober 2026.

Karhutla yang terus terjadi berulang-ulang menampakkan cengkraman yang kuat keserakahan akibat kapitalisme. Tak ayal berhektar-hektar hutan dan lahan bisa dengan mudah mereka habiskan demi pemuasan hawa nafsu. Keserakahan itu begitu melekat hingga tidak peduli lagi terhadap kenyamanan dan kepentingan khalayak. Kerakusan duniawi dengan bergelimpangan harta menjadi ciri kuat dimana kapitalisme itu bercokol. Tidak ada lagi batasan yang mengatur, semua berdasarkan tuntutan dan kepentingan masing-masing. Hukum buatan manusia sangat mudah untuk dirubah dan diutak-atik hingga terlihat sempurna. 

Alhasil bumi dan alam menjadi sasarannya. Karhutla pun semakin mencekam, api sudah menyebar luas menghabiskan hutan dan lahan. Pemukiman menjadi arang tak tersisa akibatnya. Marga satwa sebagai penghuni hutan morat marit meminta pertolongan karena tempat tinggal mereka telah dikepung oleh api. Korban jiwa manusia terus bertambah. Penyakit ISPA kian melonjak menambah daftar pasien yang panjang meskipun fasilitas kesehatan sangat tidak memadai. Ekonomi semakin tidak karuan, lapangan pekerjaan hilang sementara biaya hidup terus mahal. Pendidikan generasi terancam hancur karena akses pendidikan yang diliputi asap pekat. Udara tempat bernafas kian sesak dengan asap tebal yang menyelimutinya.

Dimana kehadiran penguasa??
Apakah tidak menjadi rasa takut ketika kedzaliman itu dilakukan dimuka bumi ini sementara seharusnya mereka hadir dan bertanggung jawab nya atas kejadian ini?

Allah SWT telah berfirman;

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya, “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.” (QS Al-Hud [11]: 18).

وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ
Artinya, “Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, ‘Rasakanlah olehmu azab neraka yang dulu kamu dustakan.’” (QS Saba’ [34]: 40).

Rosulullah Saw bersabda;
اتَّقُوْا اللهَ، وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, “Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan takutlah kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedzaliman akibat keserakahan ini sudah jelas akan dilaknat oleh Allah SWT. Kemurkaan Allah terhadap mereka yang melakukan kemaksiatan dan kedzaliman tidak akan luput dari azab-Nya. Bumi dan alam semesta ini adalah milik Allah, maka Allah tidak akan segan-segan memberikan balasan yang setimpal atas kezaliman yang mereka perbuat. Kerusakan yang dibuat oleh mereka terhadap alam, manusia dan isinya harus mereka pertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah. 

Begitupun kecaman Rosulullah terhadap mereka yang berbuat kedzaliman, hingga kelak mereka akan merasakan kegelapan pada hari kiamat. Dimana hari itu tidak ada pertolongan lagi kecuali pertolongan dan syafaat Rosulullah Saw. Bagaimana bisa kita mendapatkan syafaat Rosulullah Saw apabila kita tidak mengikuti apa yang telah dicontohkan beliau? Bahkan melakukan kedzaliman yang sudah jelas dilarangnya. 

Kehadiran penguasa yang taqwa kepada Allah dan taat kepada Rosulullah Saw adalah menjadi kunci untuk menghilangkan kedzaliman dimuka bumi ini. Keberhasilan sebuah negara akan terbentuk dengan adanya ketaatan tersebut. Kehidupan diatur senantiasa dalam dibingkai keimanan kepada Allah. Terikat syariat akan membebaskan manusia dari belenggu apapun yang akan merusak kehidupan. Hingga Allah pun akan melimpahkan rahmat-Nya dari bumi dan dari langit.

Wallahu alam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak