Oleh : Susi Sukaeni
(Anggota Komunitas Revowriter)
Saat ini tengah berlangsung perang peradaban antara Barat dengan Islam. Sesuai dengan thesis yang dikemukakan S P Huntington tentang - Clash of civilization
Menurut Huntington pasca berakhirnya perang dingin, Barat akan berhadapan dengan kekuatan Islam. Kekuatan ini ditandai dengan masuknya Islam dalam sebuah fase kekuatan politik, ekonomi dan budaya. Barat tak rela ini terjadi karena akan mengancam hegemoninya di dunia Islam.
Peradaban Barat yang sekuler sangat bertentangan dengan peradaban Islam yang berlandaskan agama. Namun Barat selalu memaksakan ideologinya atas kaum muslimin melalui agen dan kaki tangannya. Anehnya sebagian besar kaum muslimin menerimanya dengan sukarela. Hal ini karena Barat menguasai hampir semua media _mainstream_ baik cetak maupun elektronik. Melalui media-media inilah Barat mencekoki kaum muslimin dengan pemikiran-pemikiran yang jauh dari Islam. Seperti kapitalisme, hedonisme, individualisme, liberalisme, pluralisme, feminisme dan lain sebagainya Barat jiga terus menebar racun opini menjelek-jelekan ajaran Islam. Sebagai contoh ajaran khilafah dituduh sebagai pemecah belah dan anti keberagaman.
Menghadapi kondisi ini sudah seharusnya kaum muslimin melawan dengan cara mengcounter pemikiran sesat dan opini Barat yang busuk. Sekaligus menyadarkan kaum muslimin untuk bangkit membangun peradaban Islam kali yang kedua. Di sinilah pentingnya tulisan sebagai senjata menyerang dan melumpuhkan pemikiran Barat. Sekaligus membangun kembali pilar-pilar peradaban Islam nan mulia.
Mari kita lihat seberapa dahsyat kekuatan sebuah tulisan. Ternyata beribu kali lebih dahsyat dari pedang di perang Badar, panah di perang Salib atau bom atom saat Muhammad Al fatih menaklukan konstantinopel. Simaklah quote seorang ulama besar Sayyid Qutb tentang dahsyatnya sebuah gagasan yang tertuang dalam tulisan.
" *Peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tetapi satu gagasan mampu menembus jutaan kepala"*
Sebuah pelajaran besar dari Imam Al Ghozali membuktikan hal itu. Melalui tulisannya ( Ihya Ulumuddin),Sang Imam mampu membakar spirit mujahid saat perang membebaskan Baitul Maqdis. Pada akhirnya kaum muslimin mampu merebut kembali kota Baitul Maqdis atas izin Allah SWt.
Apalagi kini kita tengah berada di era digital. Dimana medsos telah menjadi tren budaya masa kini. Medsos adalah lahan subur untuk berdakwah. Beramar ma'ruf nahyil munkar dan mengopinikan Islam.
Namun perlu disadari pada saat yang sama para penyeru peradaban Barat sekuler juga memanfaatkan medsos untuk menyebarkan virus-virus sekuler sekaligus menyerang Islam dan kaum muslimin.
Maka perang pemikiran dan perang opini antara Barat yang sekuler dengan Islam yang berlandaskan wahyu terus berlangsung setiap saat di medsos. Sebagaimana perang di dunia nyata maka perang di dunia medsos membutuhkan para prajurit pena yang ikhlas dan tangguh. Maka penting untuk mengasah kemampuan menulis di medsos disamping kemauan dan motivasi yang kuat dan lurus.
Disamping menggerakkan medsos untuk dakwah, menulis buku juga berperan besar dalam membangun sebuah peradaban. Belajar dari para ulama dan cendekia muslim terdahulu. Mereka adalah para penulis ulung yang melahirkan karya besar dan fenomenal dalam berbagai bidang keilmuan. Mereka telah berperan penting dalam sejarah kejayaan ummat Islam. Buah karya mereka masih menjadi rujukan ummat Islam hingga saat ini. Bahkan Barat yang kini maju pernah mengekor pada kemajuan ummat Islam di masa kegelapannya. Adapun kemunduran ummat Islam dewasa ini salah satunya akibat tradisi membaca dan menulis telah ditinggalkan. Taufik Ismail sastrawan senior Indonesia mengungkapkannya dengan "Tragedi nol buku". Sungguh tragis dan menyedihkan.